Tuhan dan Manusia dalam Sebuah Analogi Sederhana

Husnahisaba.com – Pada sebuah kesempatan, ceritanya saya sedang membeli makanan ringan dan minuman kemasan di mini market untuk mendampingi malam yang panjang bersama sederet tugas-tugas kampus yang tidak ada habis-habisnya. Pernah ada seseorang yang berkata kepada saya bahwa terkadang perut lapar tidak bisa membuat kita berpikir secara rasional. Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya. Terkadang saya lebih bersemangat dan lebih mudah berpikir banyak hal jika belajar ditemani oleh beberapa camilan dan minuman pendamping. Maka dari itu saya memutuskan untuk berhenti sejenak dari setumpuk tugas di hadapan saya dan pergi membeli beberapa camilan sambil mencari udara segar di luar.

Singkat cerita, saat hendak membayar, kasir di hadapan saya tersenyum ramah dan berpembawaan sangat santun. Dengan memastikan belanjaan yang akan saya bayar, kasir tersebut sempat menawarkan beberapa tawaran diskon dan layanan yang tersedia di mini market tersebut. Tetapi, saya menolak tawaran-tawaran itu karena saya merasa tidak membutuhkannya. Yang saya butuhkan pada saat itu adalah beberapa camilan dan minuman untuk menemani waktu belajar dan mengerjakan tugas.

Keluar dari mini market, saya terdiam sejenak, menarik napas panjang dan mengedarkan pandangan dari sudut kanan menyapu ke sudut kiri. Di seberang jalan sana, saya melihat ada seorang pengemis yang terduduk di atas aspal kasar, bersandar pada dinding dengan pakaian yang lusuh, wajahnya keriput menjadi bukti bahwa ia telah melalui waktu yang sangat panjang, raut wajah yang terlihat lelah dan berpeluh, tatapan mata yang penuh harap, dan tangan yang menengadah kepada setiap orang yang berjalan melintasinya, berharap akan ada orang yang memberinya beberapa keping penghidupan.

Siapa pun yang melihatnya tentu akan tersentuh dan merasa kasihan meskipun setiap orang memiliki respon yang berbeda-beda, ada yang bersimpati, berempati, atau tidak memikirkannya sama sekali.

Dalam perjalanan pulang, saya merenung dan menyadari bahwa saya telah belajar sesuatu. Pemandangan yang saya lihat tadi akan saya hubungkan dengan perspektif seorang hamba dan Tuhannya.

Kalu dipikir-pikir apa mungkin cara kerja Tuhan dalam mengabulkan permohonan atau permintaan hamba-Nya seperti pembeli dan kasir mini market tadi, juga pengemis dan orang yang melihatnya meminta-minta.

Pada kenyataannya Tuhan memang tidak bisa disamakan dengan makhluk, sungguh jauh sekali perbedaannya. Namun analogi sederhana di atas bisa dijadikan cerminan dan pelajaran bagi kita sebagai manusia.

Terkadang kita perlu menempatkan posisi kita sebagai pengemis di mata Tuhan. Namun tentunya dengan konteks yang berbeda, dimana kita menyingkirkan, membuang jauh-jauh segala bentuk kesombongan dan kebanggaan yang kita miliki di dunia. Di hadapan Tuhan kita layaknya pengemis yang tidak memiliki apa-apa selain harapan yang besar akan datangnya sebuah keajaiban dan kasih sayang-Nya. Tuhan sesungguhnya menyukai orang-orang yang berdo’a dan meminta kepada-Nya dengan sungguh-sungguh daripada orang yang telah merasa dirinya hebat, dirinya berkecukupan, semua harta yang ia punya merupakan hasil kerja kerasnya bukan atas pertolongan-Nya, lalu ia enggan berdo’a kepada Tuhan.

Kita tidak diharuskan menjadi pengemis sungguhan, tidak diharuskan untuk meminta-minta di pinggir jalan, tidak harus menengadahkan tangan kepada manusia dengan harapan mendapat beberapa peser uang, tidak diharuskan menjadi tua renta dengan menggunakan pakaian yang compang-camping. Kita hanya perlu menjadi pengemis dalam konteks dan pemaknaan yang berbeda, menjadi manusia yang bertawakkal atau berserah diri kepada Tuhan setelah bersusah payah mengejar dunia, menjadi manusia yang senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, menjadi manusia yang senantiasa berdo’a kepada-Nya dalam segala keadaan, menjadi manusia yang jauh dari perilaku sombong dan berbangga diri yang berlebihan, ingatlah bahwa segala pencapaian yang telah kita raih tidaklah lepas dari pertolongan dan campur tangan Tuhan, maka jangan sekali-kali melupakan-Nya.

Masih ingat ketika saya menolak penawaran kasir di mini market tadi karena saya merasa tidak membutuhkan produk atau layanan yang ditawarkannya. Mungkin begitu pula cara kerja Tuhan menjawab permintaan-permintaan hamba-Nya, terkadang Tuhan hanya memberi apa yang benar-benar kita butuhkan karena Tuhan tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Seberapa pun kerasnya kehidupan dan seberapa pun kecilnya harta yang kita miliki, Tuhan pasti memenuhi rezeki hamba-hamba-Nya selama mau berusaha. Kebutuhan hidup manusia dan seluruh makhluk-Nya pasti tercukupi, namun manusia terkadang selalu merasa kurang dengan mementingkan penilaian di mata manusia lainnya atau mengutamakan gaya hidupnya. Dan hal itu menjadi jalan tertutupnya pintu-pintu rezeki lainnya, karena mereka telah melupakan rasa terima kasih atau lupa bersyukur kepada Tuhan-Nya. Padahal kalau ia senantiasa bersyukur atas nikmat dan kebaikan yang Tuhan beri, Tuhan pasti menambah nikmat baginya.

Semoga tulisan di atas bisa memberi pelajaran berharga bagi teman-teman pembaca. Jangan lupa berdo’a dan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Husna Hisaba

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan

*