Sumbangan 3 Ilmuwan Muslim Ternama terhadap Peradaban

Husnahisaba.com – Islam sejak awal terbentuknya hingga melahirkan wajah Islam yang kita kenal saat ini tentunya mengalami serangkaian perjalanan sejarah panjang dan tidak lepas dari keterlibatan tokoh-tokoh Muslim yang hidup dari masa ke masa untuk mengisi keislaman sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits demi kemajuan peradaban manusia.

Secara historis, Islam pernah mengalami masa kejayaan atau masa keemasannya di mana Islam pada masa itu mengalami kemajuan yang sangat pesat hampir dalam segala bidang kehidupan, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan. Islam banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan ternama kelas dunia yang mampu mengubah wajah dunia dan wajah Islam secara khusus ke arah peradaban yang lebih baik.

Pada kesempatan ini saya akan membahas mengenai 3 ilmuwan Muslim ternama yang menyumbangkan karyanya bagi peradaban. Ketiga ilmuwan tersebut adalah Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi. Yang mana karya-karyanya banyak dijadikan rujukan atau landasan terciptanya ilmu pengetahuan terbaharu di masa setelahnya, bahkan hingga saat ini.

1. Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali sebuah nama yang tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam dunia filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seluruh dunia Islam.

Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thusi, Abu Hamid Al-Ghazali. Sebagian ulama mengatakan bahwa penyandaran nama beliau diambil dari nama sebuah daerah Ghazalah di Thusi. Di dunia barat dikenal dengan sebutan Algazel.

Lahir di Thus pada 1058 M / 450 H – Meninggal di Thus 1111 M / 505 H.

Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam, teolog muslim yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia.

Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Ia digelari Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Ia sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Ia berjaya menguasai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan.

Ia juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengembara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum dia memulai pengembaraan, dia telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem dan Mesir.

Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecilndia telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan dia benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara’, zuhud dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT.

Karya Imam Al-Ghazali dalam Bidang Tasawuf yang Terkenal

Ihya Ulumuddin ( Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama)

Merupakan kitab yang membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nafs) yang membahas perihal penyakit hati, pengobatannya, dan mendidik hati. Kitab ini merupakan karya yang paling terkenal dari Imam Al-Ghazali.

Hanya saja kitab ini memiliki kritikan, yaitu meskipun Imam Ghazali merupakan seorang ulama namun dia bukanlah seorang yang pakar dalam bidang hadits, sehingga ikut tercantumlah hadits-hadits tidak ditemukan sanadnya, berderajat lemah maupun maudhu.

Hal ini menyebabkan banyak ulama dan para ahli hadits yang kemudian berupaya meneliti, memilah dan menyusun ulang terhadap takhrij hadits yang termuat di dalam Ihya Ulumuddin.

Karya Imam Al-Ghazali dalam Bidang Filsafat yang Terkenal

Tahafut Al-Falasifah (Kerancuan Para Filusuf)

Berisi bantahan yang dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali terhadap pendapat dan pemikiran para filosof serta mengungkap kelemahan para filosof-filosof masa itu.

Karya Imam Al-ghazali yang satu ini menjadi kontroversi selama berabad-abad. Di dalam karya ini Al-Ghazali mengkritik para filsuf muslim, terutama Ibnu Sina dan Al-Farabi, khususnya dalam masalah teologi atau kalam. Buku ini dianggap memiliki andil atas mencuatnya madzhab teologi Asy’ariyah dan mundurnya minat terhadap falsafah yang berakar pada filsafat Yunani.

Dalam buku ini, Al-Ghazali menulis 20 daftar kerancuan logika para filsuf terkait teologi Islam. Dari daftarnya itu, 17 diantaranya dinyatakan sebagai sesat atau bid’ah, dan 3 lainnya dianggap sebagai tanda kekafiran.

Tiga butir kerancuan yang Al-Ghazali anggap sebagai tanda kekafiran adalah: Pertama, pendapat bahwa alam semesta senantiasa ada dan tanpa permulaan; kedua, pendapat bahwa Tuhan hanya mengetahui perkara-perkara mujmal (umum) dan bukan hal-hal parsial atau khusus; dan ketiga, pendapat bahwa hanya ruh (dan bukan jasad) yang akan dibangkitkan di hari akhir.

Karya-karya Imam Al-Ghazali Lainnya

  • Jawahirul Qur’an
  • Arba’in fi ushuludin
  • Qawaidul Aqa’id
  • Al-Iqtishad fil I’tiqad
  • Faishal At-Tafriwah Bainal Islam wa Zanadiqah
  • Al Mustashfa min ‘ilmil Ushul
  • Mahakun Nadzar
  • Mi’yarul ‘Ilmi
  • Ma’ariful Aqliyah
  • Kimiya as-Sa’adah
  • Misykah al-Anwar
  • Al-Qistas al-Mustaqim
  • Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq
  • Dll.

2. Ibnu Sina

Ibnu Sina adalah ilmuwan Muslim yang sangat terkenal di dunia. Ia seorang filusuf, dokter, ilmuwan dengan pemikiran-pemikiran yang cerdas mendasari ilmu kedokteran modern. Ia disebut sebagai “Bapak Kedokteran Modern”.

Ibnu Sina lahir di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan pada 980 M/370 H – Meninggal di Hamadan, Persia (Iran) pada 1037 M/ 428 H.

Ibnu Sina bernama lengkap Abu Ali al-Husayn bin ‘Abdillah bin Sina. Dalam dunia barat ia dikenal dengan sebutan “Avicenna

Saat berusia 10 tahun dia banyak mempelajari ilmu agama Islam dan berhasil menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan.

Ibnu Sina lahir di zaman keemasan Peradaban Islam. Pada zaman tersebut ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Teks Yunani dari zaman Plato, sesudahnya hingga zaman Aristoteles secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam. Pengembangan ilmu pengetahuan pada masa ini meliputi matematika, astronomi, Aljabar, Trigonometri, dan ilmu pengobatan. Di zaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahun dunia Islam.

Ilmu-ilmu lain seperti studi tentang Al-Quran dan Hadist berkembang dengan suasana perkembangan ilmiah. Ilmu lainya seperti ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam sangat berkembang dengan pesat. Pada masa itu Al-Razi dan Al-Farabi menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu pengobatan dan filsafat. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar di perpustakaan besar di wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota Isfahan dan Hamedan. Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi buku, pada masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur seorang matematikawan terkenal dan sangat teliti, Abu al-Khayr Khammar seorang fisikawan dan ilmuwan terkenal lainya.

Ibnu Sina juga seorang penulis yang produktif, sebagian besar karyanya membahas tentang filsafat dan pengobatan. Ia adalah satu-satunya filsafat besar dalam bidang Islam yang berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim hingga berabad-abad.

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat dan waktu”.

Karyanya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga dengan sebagai Qanun yang digunakan sebagai referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan abad ke-12 M, kitab Al-Qanun diterjemahkan ke dalam bahasa latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, prancis, jerman, dan berbagai bahasa lainnya.

Suatu ketika diceritakan dalam sejarah bahwa ia pernah mengalami masalah saat belajar ilmu metafisika dari Aristoteles. Empat puluh kali dia membacanya sampai hafal setiap kata yang tertulis di dalam buku tersebut, namun ia tidak mengerti artinya. Sampai suatu hari ia menemukan pencerahan, dari uraian singkat Al-Farabi dalam bukunya. Ia membaca kitab Agradhu Kitab Ma Waraet Thabie’ah li-li arishto, Al-Farabi. Semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapatkan kunci bagi segala ilmu metafisik.

Dia beralih ke pengobatan di usia 16 dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi juga menemukan metode baru pengobatan. Anak muda ini memperoleh status penuh sebagai dokter yang berkualitas pada usia 18.

Ia berkata: “Kedokteran adalah ilmu yang sulit ataupun berduri, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya segera membuat kemajuan besar, saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat pasien, menggunakan obat yang disetujui.”

Ketenaran Ibnu Sina menyebar dengan cepat dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.

Karya-karya Ibnu Sina

Jumlah karya yang ditulis Ibnu Sina (diperkirakan antara 100 sampai 250 buah judul). Kualitas karyanya yang bergitu luar biasa dan keterlibatannya dalam praktik kedokteran, mengajar, dan politik, menunjukkan tingkat kemampuan yang luar biasa.

Beberapa karyanya yang sangat terkenal di antara lain:

  • Qanun fi Thib (Canon of Medicine) (Terjemahan bebas : Aturan Pengobatan)
  • Asy Syifa (terdiri dari 18 jilid berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan)
  • An Najat
  • Mantiq Al Masyriqin (Logika Timur)
  • Al-Inshaf

Selain karya filsafatnya tersebut, Ibnu Sina meninggalkan sejumlah esai dan syair. Beberapa esainya yang terkenal adalah:

  • Hayy ibn Yaqzhan
  • Risalah Ath-Thair
  • Risalah fi Sirr Al-Qadar
  • Risalah fi Al- ‘Isyq
  • Tahshil As-Sa’adah

Dan beberapa Puisi terpentingnya yaitu:

  • Al-Urjuzah fi Ath-Thibb
  • Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah
  • Al-Qasidah Al- ‘Ainiyyah

3. Al-Farabi

Al-Farabi adalah ilmuwan dan filsuf Islam berasal dari Farab, Kazakhstan. Seorang penerus tradisi intelektual Al-Kindi, tetapi dengan kompetisi, kreativitas, kebebasan berpikir, dan tingkat sofistikasi yang lebih tinggi lagi. Al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar piramida studi falsafah dalam Islam yang pada saat itu terus dibangun dengan tekun. Ia terkenal dengan sebutan Guru Kedua dan otoritas terbesar setelah panutannya, yaitu Aristoteles.

Al-Farabi, nama lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Uzalah Al- Farabi. Lahir di Wasij, distrik Farab, Turkistan pada 870 M/257 H – Meninggal di kota Damaskus pada 950 M/339 H.

Sebutan Al-Farabi diambil dari nama sebuah kota yaitu Farab. Dalam dunia barat, Al-Farabi dikenal dengan sebutan Alpharabius atau Abunaser.

Sejak dini ia sudah sangat tekun dan rajin belajar. Ia digambarkan memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari. Pada masa awal pendidikannya ini, al-Farabi belajar Al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmetika dasar.

Menurut literatur, Al-Farabi dalam usia 40 tahun pergi ke Baghdad, sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan dunia kala itu. Selama di Baghdad ia banyak menggunakan waktunya untuk berdiskusi, mengajar, mengarang, dan mengulas buku-buku filsafat.

Dalam dunia intelektual Islam ia mendapat kehormatan dengan julukan Al-Mu’allim Al-Sany (Guru Kedua), sedangkan yang menjadi guru pertama adalah Aristoteles. Selain itu Al-Farabi juga menyandang predikat Al-Syaikh Al-Rais, gelar-gelar ini didapatkan karena ia banyak memahami filsafat Aristoteles.

Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.

Ia mencoba mengkombinasikan ide atau pemikiran-pemikiran para ahli filsafat Yunani Kuno seperti Plato dan Aristoteles dengan pemikiran Islam untuk menciptakan sebuah negara pemerintahan yang ideal (Negara Utama).

Sebagai seorang filosof yang ternama, dalam hidupnya ia dikenal seorang yang tidak berkecimpung di dunia politik pemerintahan. Atas dasar inilah ia mengeluarkan pemikirannya yang tidak terikat dengan dogma-dogma yang berbau politik di kala itu.

Satu sisi menguntungkan dirinya, tetapi kalau dilihat dari segi pemerintahan, maka ia juga mendapati kerugian karena kurangnya pengalaman dalam mengelola urusan kenegaraan, juga untuk menguji teori-teorinya terhadap kenyataan politik kala itu.

Selama hidupnya al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari Ilmu Pengetahuan, karya-karya al- Farabi dapat ditinjau menjdi 6 bagian:

  • Logika
  • Ilmu-ilmu Matematika
  • Ilmu Alam
  • Teologi
  • Ilmu Politik dan kenegaraan
  • Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah)

Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tetang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah Islam.

Di antara pemikiran Al-Farabi dituliskan menjadi sebuah karya, namun ciri khas karya dari Al-Farabi bukan saja mengarang kitab-kitab besar, ia juga memberikan ulasan-ulasan serta penjelasan terhadap karya Aristoteles, Iskandar Al-Dfraudismy, dan Plotinus.

Di antara ulasan Al-Farabi terhadap karya-karya mereka adalah sebagai berikut:

Karya Ulasannya terhadap Karya Aristoteles

  • Burhan
  • Ibarat
  • Khitobah
  • Al-Jadal
  • Qiyas
  • Mantiq

Karya Ulasannya terhadap Karya Plotinus

  • Al Majesti fi Ihnil Falaq

Karya Ulasannya terhadap Karya Iskandar Al Dfraudisiy

  • Maqalah Fin-nafsi

Karya-karya Al-Farabi Lainnya

  • Al-Jami’u baina Ra’yani Al-Hikiman Afalatoni Al Hahiy wa Arishto-thails (Pertemuan/Penggabungan pendapat antara Plato dan Aristoteles)
  • Tashilu as Sa’adah (Mencari Kebahagiaan)
  • Fususu Al Taram (Hakikat Kebenaran)
  • As Syiasyah (Ilmu Politik)
  • Arro’u Ahli Al Madinati Al Fadilah (Pemikirian-Pemikiran Utama Pemerintahan)
  • Fi Ma’ani Al-Aqli
  • Ihso’u Al Ulum (Kumpulan Berbabagai Ilmu)
  • At Thagibu ala As Sa’adah
  • Isbatu Al Mufaraqat
  • Al Ta’liqat
  • Dll.

Husna Hisaba

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan

*