Sebaik-baik Teman Duduk Adalah Buku

Husnahisaba.com – Kamu mungkin merasa sudah tidak asing lagi dengan Mahfudzot (kata-kata mutiara) yang tertera pada judul tulisan ini. Ya, “Sebaik-baik teman duduk adalah buku”. Kalau kamu punya pengalaman mondok atau belajar di pesantren, pepatah itu sangat familiar sekali di ingatan kita, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia.

Sepengalaman saya belajar di pesantren selama tiga tahun, dalam setiap pelajaran Mahfudzot, saya dan santri-santri yang lain selalu memulai pelajaran dengan melafalkan ulang kata-kata mutiara yang sudah dihafal dan dipelajari sebelumnya secara serentak. Menyenangkan sekali. Sebagai gantinya, kata-kata mutiara itu akhirnya terpatri dengan baik dalam ingatan saya.

Mengapa kita merasa perlu mempelajari kata-kata mutiara?

Kalau kita dapat meresapinya dengan baik, setiap pepatah yang diajarkan oleh guru-guru kita itu layaknya siraman air hujan di tanah yang tandus. Memberikan kesegaran, kesejukan, dan kedamaian pada hati yang kering kerontang. Kata-kata mutiara yang kita pelajari merupakan asupan yang bergizi untuk rohani kita yang tidak selalu dalam kondisi prima.

Secara langsung atau tidak langsung belajar Mahfudzot dapat meningkatkan kebijaksanaan kita sebagai manusia yang dibekali akal sehat. Sudah jelas, bukan? Yang dipelajarinya saja kata-kata bijak, masa iya orangnya nggak ikut-ikutan bijak, idealnya orang yang sunguh-sungguh mempelajari kata-kata bijak akan tercermin pula pada pribadinya yang bijaksana.

Tapi kembali lagi, itu semua tergantung pada tiap-tiap individu memandangnya. Bisa saja mempelajari Mahfudzot hanya untuk menambah wawasan keilmuannya saja tapi tidak untuk di refleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa juga mempelajari Mahfudzot hanya karena tuntutan dari orang lain, sehingga mau tidak mau harus mempelajarinya. Dalam menyikapinya semua kembali ke diri masing-masing. Yang pasti mempelajari ilmu yang satu ini sangat banyak sekali manfaatnya dan kamu gak akan rugi, deh.

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas salah satu Mahfudzot yang cukup familiar di telinga kita. Dan dalam bahasannya saya akan mengutip penjelasan dari buku berjudul La Tahzan yang ditulis oleh Dr. Aidh Al-Qarni.

Menurutmu, mengapa buku bisa menjadi sebaik-baiknya teman duduk? Padahal buku itu kan benda mati, secara tersurat buku tidak bisa kita ajak bicara, buku tidak bisa mendengarkan keluh kesah kita. Apa pantas dijadikan sebaik-baiknya teman?

Menurut hemat saya, buku benar-benar bisa menjadi sebaik-baiknya teman. Mengapa? Karena setiap waktu yang kita habiskan dengan buku, tidak akan pernah membuat kita rugi sedikit pun. Berteman dengan buku sama halnya berteman dengan ilmu pengetahuan. Orang yang hidupnya dipenuhi dengan ilmu, bisa mendapatkan apa pun itu baik di dunia ini maupun di akhirat kelak, bukan saya yang ngomong, itu sabda nabi, loh. Jadi, di sisi mana ruginya? Masih menganggap buku bukan sebaik-baiknya teman?

Diantara sebab kebahagiaan adalah meluangkan waktu untuk mengkaji, menyampaikan diri untuk membaca, dan mengembangkan otak dengan hikmah-hikmah.

Berbeda halnya ketika kamu menghabiskan waktu bersama teman sesama manusia. Kita berbicara fakta dan realita, kebanyakan orang –tidak semua orang– menghabiskan waktu dengan teman-teman sesama manusianya untuk sesuatu yang kurang memiliki nilai manfaat, bahkan merugikan. Gak jauh-jauh deh dari ngongkrong-nongkrong gak jelas, ngabisin duit, ghibahin orang, gosipin orang, menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang gak penting, dan lain sebagainya. Itu untuk contoh yang kurang positifnya, ya.

Contoh positifnya ada juga kok, berteman dengan teman sesama manusia yang baik hatinya bisa juga menularkan kebaikan kepada kita; berteman dengan teman yang pintar, tidak menutup kemungkinan menularkan kepintarannya kepada kita; berteman dengan orang yang rajin sholat ke masjid, sangat mungkin menularkan kebiasaan sholat ke masjidnya ke kita; berteman dengan teman yang bertutur kata baik, sangat bisa menularkannya juga ke kita. Dan masih banyak lagi contoh-contoh positif lainnya.

Kalau kata hadits nabi, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berteman dengan manusia masih memungkinkan kamu menemukan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat merugikan hidupmu.

Oke, kita lanjutkan pembahasan buku sebagai sebaik-baiknya teman.

Kamu kenal Al-Jahizh? Kayaknya kita emang gak kenal deh karena gak pernah ketemu, Al-Jahizh hidup pada abad pertengahan, kita belum lahir. Walaupun gak pernah ketemu, setidaknya kita tahu riwayat hidupnya meskipun hanya sedikit. Al-Jahizh adalah seorang cendekiawan, Bapak Biologi Muslim, pencetus konsep evolusi sebelum Charles Darwin, dan memiliki karya-karya dalam bidang literatur Arab, biologi, zoologi, sejarah, filsafat, psikologi, Teologi Mu’taziliyah, dan polemik-polemik religi. Sudah kenal, yah. Walaupun gak ketemu langsung.

Al-Jahizh menasihatkan untuk senantiasa membaca dan mengkaji agar kita bisa mengusir kesedihan. Katanya: “Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Ia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu. Dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu. Dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang kamu miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan.”

Buku adalah sesuatu yang jika kamu pandang maka akan memberikan kenikmatan yang panjang, dia akan menajamkan kemampuan intelektual, membuat lidah tidak kelu, dan membuat ujung jemari semakin indah. Dia akan memperkaya ungkapan-ungkapanmu, akan memenangkan jiwa, dan akan mengisi dada. Buku akan memberikan “penghormatan orang-orang awam dan persahabatan dengan raja-raja” kepadamu. Dengannya kamu akan mengetahui banyak hal hanya dalam waktu yang singkat. Satu hal yang tidak bisa kamu dapatkan dari mulut orang selama satu masa.

Buku akan senantiasa taat baik di siang hari maupun malam hari. Dia dapat mengikutimu kemana saja, baik dalam perjalanan maupun ketika kamu berdiam diri di rumah. Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pernah kelelahan menemanimu. Dia adalah guru yang jika kamu membutuhkannya, maka ia tidak akan merasa malu. Dan jika kamu meninggalkannya, maka dia tidak akan memutuskan faedahnya. Walaupun kamu meninggalkannya dia akan selalu taat. Meskipun kamu berada dalam kondisi tersulit sekalipun, dia tidak akan berpaling. Kesendirianmu tidak akan membahayakan selama kamu selalu bersamanya.

Buku akan menghindarkan kamu dari segala kemungkinan buruk, dan menghadapkan seseorang pada manfaat yang besar. Berteman dengan buku sama halnya kamu telah berhasil mendapatkan pokok sekaligus cabangnya. Seandainya yang kamu dapatkan dari buku tak lebih dari kegiatan yang menghalangi niatmu dari keinginan yang murahan, dari keinginan untuk bersenang-senang saja, dan main-main yang sama sekali tidak berarti, maka itu sudah merupakan nikmat yang besar dan karunia yang agung.

Kita sadar bahwa buku adalah pilihan terbaik bagi orang-orang yang kosong untuk menghabiskan waktu siangnya, dan orang-orang yang suka bersenang-senang untuk menghabiskan malam-malam mereka. Buku adalah sesuatu yang tanpa mereka sadari, memberikan dorongan untuk mencoba, menggunakan nalarnya, membentuk kepribadiannya, menjaga kehormatan mereka, meluruskan agama mereka, dan mengembangkan harta mereka.

Saran saya, jadikan buku sebagai teman terbaik dalam mengisi waktu-waktu luang dalam hidup. Karena berteman dengan buku, sekali lagi tidak akan membuatmu rugi, banyak sekali manfaat yang bisa dipetik darinya, tentunya sangat menguntungkan bagi kamu. Bukan berarti berteman dengan buku malah menjadikan kamu antisosial dan tidak mau berteman dengan sesama manusia, loh. Segala sesuatunya harus diterapkan dengan baik dan proporsional.

Semoga tulisan yang satu ini dapat meningkatkan minat kamu dalam membaca dan juga meningkatkan kecintaan kamu terhadap buku.

Husna Hisaba

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan

*