Perjalanan Menulis Novel Perdana

Husnahisaba.com – Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada bulan November 2018, merupakan sebuah momen yang sangat istimewa dan mungkin tidak akan terlupakan, saya merasa sangat bahagia pada waktu itu. Yah … Bagaimana tidak, saya mendapat kabar dari salah satu penerbit buku yang mengatakan bahwa novel perdana saya yang berjudul Padang Ilalang telah resmi terbit.

Sungguh lega rasanya mendengar kabar tersebut, setelah sekian lama menunggu dan berjuang menuntaskan sebuah naskah, akhirnya saya dapat merealisasikan salah satu impian saya dalam hidup.

“Menulis dan Menerbitkan Buku Minimal Sekali Seumur Hidup.”

Kurang lebih impian itu yang tertanam di dalam diri saya. Berawal dari hal itu, saya terus berusaha dan mencari sebuah peluang untuk dapat menulis dan menerbitkan sebuah buku, hingga setelah tiga tahun lamanya memendam mimpi itu, karena jujur saja, saya bingung dan tidak tahu bagaimana caranya menerbitkan sebuah buku.

Disamping tulisan-tulisan saya yang teramat buruk dan tidak layak untuk dibaca, saya termasuk orang yang malas. Jangankan menulis satu naskah buku, menulis sebanyak satu halaman pun terkadang berat untuk dilakukan. Ditambah lagi ketika membaca tulisan para penulis hebat, saya merasa sangat minder untuk menulis, saya merasa tulisan saya itu seperti sampah yang tidak berguna, tidak pantas dihidangkan untuk pembaca. Lagi-lagi saya urung untuk mulai menulis naskah buku pertama kalinya.

Niat menerbitkan buku sudah ada ketika saya duduk di bangku kelas satu MA/SMA, karena kendala di atas, niat tersebut nyala redup nyala redup, hampir padam. Tapi tahukah, Sobat? Meskipun begitu, tekad di dalam diri saya ini tidak bisa diremehkan, hehehe. Sedikit demi sedikit saya selalu belajar dan mengasah kemampuan menulis saya pada sebuah blog milik saya sendiri yang sengaja dibuat untuk tujuan media belajar menulis dan mengembangkan hobi yang saya miliki.

Setelah satu tahun lamanya, membiasakan diri menulis dan mengasah kemampuan menulis. Pada tahun kedua saya memberanikan diri mengikuti sebuah perlombaan menulis cerpen. Dan alhamdulillahnya saya gagal meraih juara, wkwkwk. Cerpen yang saya lombakan hanya mendapat peringkat sebagai “Kontributor Favorit”. Tapi walaupun hanya sampai kontributor favorit, saya senang sekali, karena karya saya dibukukan oleh penyelenggara perlombaan, sebuah buku kumpulan cerpen yang isinya cerpen-cerpen dari peserta lomba yang masuk dalam kategori “Kontributor Favorit” termasuk saya didalamnya.

Dengan begitu, kepercayaan diri saya meningkat dan saya yakin, bukan sesuatu yang mustahil bagi saya untuk dapat menulis naskah buku dan menerbitkannya. Semangat dalam diri saya meningkat, rasanya pada saat itu saya benar-benar haus akan ilmu kepenulisan, saya mencari referensi-referensi menulis dari berbagai sumber. Bukan hanya ilmu kepenulisan, tapi motivasi dan inspirasi menulis pun benar-benar kita butuhkan untuk menjaga kadar semangat dan i’tikad kuat dalam meraih sebuah mimpi.

Terkadang kita juga perlu  banyak-banyak membaca karya tulis penulis lain, untuk mempelajari gaya bahasa yang dipakai, diksi yang ada di dalamnya, memperbanyak perbendaharaan kata, menambah wawasan kepenulisan, menambah ide cerita, mempelajari kaidah kepenulisan dan ejaan yang terdapat didalamnya, dan tentunya dengan membaca karya orang lain, seharusnya menjadi sebuah dorongan semangat bagi kita untuk dapat menjadi seperti mereka, bahkan lebih baik dari mereka dalam berkarya.

Ada satu hal penting yang saya pelajari selama ini mengenai dunia kepenulisan.

“Belajar teori dan ilmu kepenulisan itu perlu dan peting. Tapi, semua itu tidak akan berguna jika kamu tidak memulai untuk menulis dan mempraktikkannya.”

Dari situ saya belajar sebuah kunci utama untuk meraih impian besar dalam hidup saya. Ya, MEMULAI. Selama ini mungkin kita banyak disibukkan oleh teori-teori kepenulisan yang ada, disibukkan oleh kekhawatiran-kekhawatiran kita mengenai tulisan yang akan ditulis nanti. Selama kita tidak memberanikan diri untuk memulai, selama itu juga impianmu tidak akan pernah tercapai. Jadi, mari memulai, lakukan sebuah pergerakan, jangan hanya diam, mulailah menulis dan seiring berjalannya waktu impian tersebut akan semakin dekat menghampiri kita.

Untuk memulai ini tidak mudah, Sobat. Berat banget, loh. Makannya perlu adanya tekad dan motivasi yang kuat di dalam diri kita. Tanamkan tekad dan motivasi yang kuat dalam diri, jaga semangat dalam diri, jangan sampai padam, nyala redup tak apa-apa asal jangan sampai padam.

Dalam jenjangan proses kita mengenal sebuah istilah Trial and Error, Mencoba dan salah, mencoba dan gagal, mengalami jatuh dan bangunnya sebuah perjuangan, dan hal-hal yang membuat kita seperti ingin menyerah dan menyudahi sebuah perjuangan. Usaha dan perjuangan kita memang tidak selalu berjalan mulus, Sob. Selalu ada tantangan dan hambatan yang perlu kita lalui. Jangan mudah memutuskan untuk menyerah. Kegagalan itu wajar, setiap manusia pasti mengalaminya, saya termasuk orang yang bisa dibilang presentase gagal dan kemungkinan gagalnya lebih besar daripada keberhasilannya, saya mengalami dan merasakannya sendiri.

Tapi jangan jadikan itu sebagai pematah semangat kita untuk meraih mimpi. Biarlah kegagalan dan kesalahan itu ada untuk menghiasi dan mewarnai hidup kita, menjadi pembelajaran terbaik dalam hidup kita, dan dengan begitu kita pun tahu bahwa Allah selalu memberikan jalan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, salah satunya melalui kegagalan atau kesalahan yang kita temui dalam setiap jenjangan proses dalam hidup dan dalam meraih impian.

“Kegagalan menjadi sebuah pertanda, bahwa kita masih harus terus berjuang untuk meraih apa yang kita impikan.”

Diakhir tahun kedua, ide-ide dan outline cerita sudah memenuhi isi kepala saya dan siap dituangkan dalam bentuk tulisan berupa karya sastra novel, namun sempat tersendat berkali-kali untuk menuliskannya.

Akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan ide-ide tersebut terlebih dahulu, urusan menulis lengkap naskah novel itu belakangan, karena memang saya masih ragu untuk memulai menuliskannya, entah kenapa, rasanya saya masih belum berani memulainya.

Seiring berjalannya waktu, saya berusaha mencari info-info mengenai penerbitan buku, dari penerbit mayor hingga penerbit indie, dari penerbit yang berbayar hingga penerbit yang gratis dalam proses penerbitan bukunya. Kriteria-kriteria penerbit, buku-buku yang biasa di terbitkan oleh penerbit tertentu, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, pada tahun ketiga. Ini yang menarik bagi saya. Mengapa? Karena saya mendapatkan sebuah kejutan dan rezeki yang tidak diduga-duga.

Keinginan kuat untuk menerbitkan buku sudah ada, dasar-dasar ilmu kepenulisan sudah ada (ya walaupun belum terlalu mumpuni), ide menulis sudah ada, dan tinggal beberapa tahap lagi yang harus saya selesaikan pada awal tahun ketiga ini, diantaranya adalah menuliskan naskah novel dan mencari penerbit untuk menerbitkannya. Sambil mengimbangi diri menunaikan kewajiban belajar dan berorganisasi di sekolah, sambil memikirkan hobi menulis yang menjelma menjadi sebuah impian untuk menerbitkan buku.

“Selalu ada jalan, bagi mereka yang senantiasa berusaha dan berdo’a.”

Hal itu saya rasakan sendiri, alhamdulillah, atas kehendak Allah yang memberikan jalan dan kemudahan bagi hamba-hamba-Nya. Singkat cerita saya telah menjalin hubungan kerja sama dengan salah satu penerbit (Kalau diceitain mengapa bisa demikian, ceritanya panjang, wkwkwk.) dan mendapatkan tawaran berupa program menulis dan menerbitkan buku secara gratis di penerbit tersebut.

Ini kesempatan dan peluang besar bagi saya untuk merealisasikan impian yang sejak awal saya canangkan. Mendapatkan tawaran program menerbitkan buku, ditambah gratis pula. Wah, saya sangat bersyukur sekali.

Akhirnya dalam waktu satu bulan saya berhasil menuntaskan naskah novel perdana saya dengan segala jerih payahnya. Karena ide cerita sudah ada sebelumya, jadi saya tak perlu waktu yang lama untuk menuliskan naskah secara keseluruhan dalam penulisan novel perdana tersebut. Tapi ya tentu hasilnya pun tidak se-optimal dan semaksimal menulis dengan waktu yang lama, karena kehati-hatian, ketelitian, research, dan lain sebagainya sebagaimana yang biasa dilakukan oleh penulis-penulis hebat.

Ya, Husna kan penulis pemula, jadi gak masalah dong, menulis naskah dalam waktu singkat walaupun hasilnya kurang memuaskan, hehehe … Saya benar-benar bersemangat sekali saat menuliskan naskah novel pertama itu, apalagi cerita yang saya tulis di dalamnya menceritakan tentang teman-teman saya di sekolah, terutama teman sebangku saya yang sangat istimewa dan fenomenal dikalangan siswa/i dan guru-guru di sekolah.

Apakah saya mengalami kendala saat proses penulisan naskah?

Oh, tentu. Kendala dan kesulitan pasti ada, Sob. Apalagi ini pengalaman pertama saya menulis naskah novel secara keseluruhan untuk diterbitkan. Kendala umum yang biasa dialami oleh setiap penulis dalam proses menulis adalah mengalami Writer’s Block atau kondisi blank saat menulis.

Selain Writer’s Block, kendala lain yang saya hadapi adalah kebingungan dalam membagi waktu. Karena saya memiliki kewajiban lain, yaitu belajar untuk kepentingan sekolah. Tapi alhamdulillahnya kendala ini pun dapat saya atasi. Saya membuat waktu khusus untuk menulis naskah, saya buat satu jam sebelum tidur, kadang kalau lagi asik, suka lebih dari itu, hehehe. Sisanya menggunakan waktu-waktu senggang atau memanfaatkan waktu-waktu luang untuk menuntaskan naskah.

Kendala lainnya, yaitu karena saya penulis pemula, kadang masih merasa kesulitan dalam memperbaiki ejaan dan kaidah kepenulisan. Kuncinya ya banyak belajar, banyak membaca, banyak latihan menulis, membaca karya-karya orang lain serta mempelajarinya, dan jangan merasa puas dengan ilmu yang dimiliki. Untuk mempermudah, silakan cari referensi-referensi menulis di internet, kalau saya pribadi, selain di internet, saya mempunyai buku pegangan untuk referensi menulis. Jadi kalau kebingungan sama kaidah atau ejaan, bisa baca-baca buku pegangan itu. Biasakan juga untuk mencatat ilmu-ilmu kepenulisan yang dirasa penting dan seringkali kita abaikan atau lupakan.

Agar menulisnya mudah, usahakan kondisi tubuh dan moodnya tetap dalam keadaan fresh, ya. Jernihkan pikiran agar ide-ide segar yang ada dikepala kita dapat tertuang dengan baik ke dalam tulisan. Jangan terlalu memaksakan diri, atur waktu secara proporsional, istirahat juga perlu, loh. Jangan sampai diabaikan yang namanya istirahat walaupun hanya sebentar, karena dengan begitu bisa mengembalikan semangat dan pikiran kita agar fresh dan tidak stres.

Mungkin itu saja kendala yang saya hadapi dalam menulis, beserta cara saya mengatasinya. Setiap orang punya cara masing-masing yang dirasa nyaman dan cocok untuk dirinya sendiri, jadi sobat nggak perlu harus-harus banget ngikutin cara menulis saya , hehehe.

Walaupun saya merasa dalam menuliskan naskah novel pertama ini masih banyak sekali kekurangan, tetapi saya sangat bersyukur karena saya berhasil meraih impian menerbitkan buku. Ini menjadi sebuah acuan dan batu loncatan untuk terus berkarya serta meningkatkan kualitas tulisan menjadi lebih baik lagi, sehingga kedepannya diharapkan karya-karya yang lahir menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Saya selalu berusaha meyakinkan diri, bahwa ini merupakan langkah awal bagi saya untuk meraih sebuah impian yang lebih besar lagi, sebagai momen untuk memacu diri dan meningkatkan kualitas diri ke arah yang lebih baik lagi.

Satu bulan menuntaskan naskah, setelah itu masuk ke dapur redaksi penerbit, melalui tahapan editing, layouting, hingga ke percetakan. Semua itu kurang lebih memakan waktu selama dua bulan lamanya. Jadi total waktu yang saya butuhkan hingga buku resmi terbit, kurang lebih sekitar tiga bulan lamanya.

Setelah buku sampai ditangan saya, rasanya tidak bisa diungkapkan. Nyangka nggak nyangka sih. Tapi kenyataannya saya telah menerbitkan buku. CEO penerbit mengatakan bahwa status saya telah berubah menjadi seorang penulis.

Terakhir…

Segala bentuk pencapaian dalam hidup. Semuanya tidak pernah lepas dari campur tangan Allah. Semuanya atas kehendak Allah Swt., kita hanya perlu berikhtiar, berusaha semaksimal mungkin, urusan hasil dan rezeki, biarlah Allah yang menentukan.

Jadi… Ketika kita berusaha dan berjuang untuk meraih sesuatu, jangan lupakan Allah. Hadirkan Allah dalam setiap langkah kita. Banyak-banyak berdoa dan berahrap sama Allah, nanti Allah kasih jalan yang terbaik bukat kita, kok. Tenang aja … Semuanya sudah diatur, Allah tau mana yang terbaik untuk kita.

Setelah kita berhasil meraih apa yang kita impikan, kita berhasil mendapatkan apa yang kita harapkan, jangan lupa untuk senantiasa beryukur kepada Allah. Jangan lupakan Allah. Ingat semuanya tidak lepas dari kehendak Allah. Segala bentuk pencapaian harus kita syukuri, jangan malah membuat kita merasa tinggi hati dan melupakan Allah.

Sekian pengalaman menulis novel perdana yang dapat saya share, semoga bermanfaat.

Terima kasih …

Husna Hisaba

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan

*