Peringatan: Masa Lalu dapat Membunuhmu

Husnahisaba.com – Setiap manusia apa pun latar belakangnya, mustahil jika tidak memiliki masa lalu dalam hidupnya. Pada kenyataannya kita hidup di dalam waktu yang terus-menerus berputar, tanpa kenal lelah, tak pernah berhenti barang sedetik pun.

Dan di setiap perjalanan waktu itu, dalam setiap detiknya manusia mengukir pengalaman demi pengalaman yang kelak di masa yang akan datang pengalaman-pengalaman itu akan menjelma menjadi sebuah masa lalu dalam hidup.

Ironisnya masa lalu setiap orang tidak melulu berisikan tentang keindahan dan pengalaman-pengalaman yang menggembirakan. Kombinasi antara suka dan duka mewarnai perjalanan hidup anak manusia. Mungkin itu tidak terhindarkan, kecuali dengan mengubah bagaimana kita memandangnya dari perspektif yang berbeda.

Masa lalu yang buruk dan menyedihkan kerapkali mendominasi ingatan kita. Kalau sudah begitu tentunya akan sangat mengganggu jalan pikiran. Masa lalu mendadak berubah menjadi banyang-bayang hitam yang menakutkan. Selain itu, masa lalu juga akan menjadi alat mematikan yang efektif membunuh waktu dan produktivitas seseorang. Sangat merugikan, bukan?

Kita mungkin termasuk orang yang pernah merasakan hal demikian. Hari-hari yang dijalani penuh dengan penyesalan akan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Tidak ada yang dilakukan selain merenungi kesedihan sambil melontarkan sumpah serapah terhadap diri sendiri, tanpa sadar waktu yang kita gunakan habis untuk mengasihani diri sendiri yang begitu menyedihkan. Terus terang saya pernah mengalami itu.

Saya sangat bersyukur karena Allah masih mengingatkan saya untuk tidak berlarut-larut meratapi masa lalu yang selalu saya sesali. Sudah saatnya bangun dari tidur yang melenakan. Buang jauh-jauh apa pun yang mengganggu pikiran kita dan lihat dengan mata kita sendiri kehidupan yang penuh dengan kemungkinan baik. Mengapa kita harus terjebak oleh masa lalu yang jelas-jelas merugikan, kalau pada kenyataannya harapan-harapan baik di depan sana selalu ada menanti kita.

Cuman… kitanya kadang suka gak sadar dan gak mau tahu. Sudah terlalu nyaman sepertinya sama keadaan yang menyedihkan itu, atau karena memang butuh waktu untuk benar-benar bisa mengikhlaskan semua kegagalan di masa lalu. Sudahlah… mau sampai kapan?

Saya pernah membaca sebuah buku yang menuliskan bahwa hanya orang bodoh dan gila yang selalu mengenang masa lalu, kemudian bersedih meratapi kegagalan di dalamnya. Karena itu sama halnya dengan membunuh semangat, menghapus tekad, menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga, dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Sudah sepantasnya berkas-berkas masa lalu yang mengganggu ditutup atau bahkan dibuang jauh-jauh agar tidak dapat dilihat lagi. Semua itu telah berlalu dan habis dimakan waktu.

Saya menyadari bahwa kesedihan yang berlarut-larut, kegundahan, keresahan, dan penyesalan tidak akan membuat masa lalu itu berubah, saya tidak bisa kembali ke dalamnya karena memang sudah tidak hidup pada masa itu, tidak bisa kembali, semuanya sudah berlalu, hilang.

Kalau dipikir-pikir, siapa pula yang mau hidup di dalam mimpi buruk? Ketika seorang terbangun dari tidurnya karena mendapati sebuah mimpi buruk, pastinya ia akan berusaha sekeras mungkin untuk melupakan mimpi buruk yang baru dialaminya itu.

Cara kerjanya tidak jauh berbeda dengan masa lalu yang buruk. Hanya saja kita tidak sesegera mungkin berusaha melupakannya layaknya mimpi buruk. Perlu adanya kesadaran penuh dari dalam diri akan pentingnya melupakan sesuatu yang mengganggu, salah satunya masa lalu yang buruk.

Apakah kita ingin mengembalikan air sungai ke hulunya, seorang bayi manusia yang baru lahir ke perut ibunya, dan air mata yang telah jatuh kembali ke kelopak mata. Orang yang berusaha kembali ke masa lalu sama halnya dengan orang yang menumbuk tepung, atau orang yang menggergaji serbuk kayu. Sungguh naif dan ironis.

Bagaimana bisa kamu membangun sebuah bangunan atau istana yang indah di masa depan jika yang kamu lakukan saat ini hanya sibuk meratapi puing-puing bangunan yang telah hancur.

Sekalipun kamu mengerahkan segala kekuatanmu untuk kembali hidup di masa yang telah berlalu, niscaya itu tidak akan pernah terjadi karena hukum kehidupan bergerak maju ke depan bukan mundur ke belakang.

Sikap yang harus kita ambil saat ini adalah menutup berkas-berkas masa lalu yang buruk, jadikan semua pengalaman hidup sebagai pelajaran berharga untuk meniti langkah yang lebih baik lagi ke depannya. Karena sejarah adalah pelajaran berharga. Kamu bisa mengenali kesalahan dan kegagalan karena sebelumnya kamu pernah mengalami hal itu, sehingga kosa kata itu terekam dalam ingatan menjelma menjadi intuisi yang senantiasa menunjukkan arah bagi kehidupan. Tinggal bagaimana kamu memilih dan memutuskan jalan hidupmu.

Hati-hati! Masa lalu yang buruk dapat membunuhmu. Membunuh segala sesuatu tentangmu dan apa pun yang kamu miliki. Terutama membunuh waktu yang sangat berharga.

Husna Hisaba

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan

*