Pengalaman Menjadi Pemimpin yang Bodoh

Husnahisaba.com – Orang yang dipercaya menjadi seorang pemimpin biasanya bukan orang bodoh, melainkan orang yang memiliki kompetensi yang layak dan memadai sehingga memenuhi kapasitas dan kapabilitasnya sebagai pemimpin.

Tapi itu bukan rumus baku. Peluang menjadi pemimpin terbuka bagi siapa pun yang ingin memimpin sebuah organisasi baik dalam skala kecil maupun besar. Selama ada keinginan dan merasa mampu untuk menjalankannya, it’s ok.

Kesempatan itu selalu ada. Pengen kamu sebodoh apa pun, kamu berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk memimpin. Kalau tidak dalam ranah organisasi, minimalnya kamu bisa memimpin diri sendiri.

Sedikit berbagi pengalaman ketika saya menjabat sebagai ketua OSIS di MAN 2 Kota Cirebon tahun ajaran 2018/2019. Menjadi seorang pemimpin yang “bodoh”.

Sebenarnya sudah banyak orang yang mengatakan bahwa di dunia ini sama sekali tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanyalah orang yang malas. Saya setuju dengan hal itu, namun dalam tulisan ini, izinkan saya menggunakan istilah “bodoh” untuk menggambarkan kepada kamu bahwa bodoh tidak selalu tentang ketidaktahuan, tidak selalu merujuk pada orang yang lamban dalam berpikir, tetapi dengan kebebasan berpikir yang saya miliki, saya artikan bodoh di sini dengan: Bodoh dalam menerima kebiasaan yang dianggap sebagai sesuatu yang benar dan wajar untuk dilakukan.

Saya merasa organisasi yang ada di sekolah saya pada waktu itu terutama OSIS masih belum sepenuhnya merdeka dari pemikiran yang terjajah, dari sistem organisasi yang buruk, dan pendidikan organisasi yang kurang bermoral.

Mengapa saya berani berkata seperti itu? Ya, karena faktanya jelas.

Pada awal saya bergabung ke dalam organisasi, ketika saya masih menjadi seorang junior di organisasi tersebut, kesenjangan antara senior dan junior benar-benar terasa, dan senioritas masih berlaku di sana.

Mungkin kamu gak asing lagi dengan pendidikan organisasi di negara kita, yang namanya junior selalu kena marah senior-seniornya, selalu serba salah di mata seniornya, pokoknya terintimidasi dah.

Para senior selalu berdalih bahwa hal itu merupakan pendidikan mental, untuk melatih mental anggota-anggotanya agar tahan banting. Tapi menurut saya itu alasan mereka saja untuk balas dendam karena sebelumnya ketika mereka menjadi junior, mereka mendapatkan perlakuan yang sama dari para seniornya. Jadi kalau sekarang mereka menjadi senior tapi tidak melakukan ritual pendidikan yang sama dengan para pendahulunya, jelas-jelas itu sebuah kerugian bagi mereka.

Banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang saya lakukan pada saat itu mengenai efektifitas dari model atau pola pendidikan organisasi yang seperti itu.

Berhubung saya sekolah di sekolah umum, mungkin pendidikan yang seperti itu dalam sebuah organisasi tidak terlalu efektif, tidak terlalu bermanfaat, dan tidak terlalu menguntungkan bagi organisasi itu sendiri, kecuali jika sekolah tersebut merupakan sekolah berbasis militer, pendidikan yang seperti itu benar-benar sangat dibutuhkan.

Apalagi sekarang eranya sudah semakin modern, cara berpikir orang sudah semakin maju dan canggih, sepertinya pola organisasi yang seperti itu sudah tidak relevan lagi diterapkan.

Oh, ya. Ada satu hal lagi yang ingin saya kritisi kepada para senior. Terkadang karena sikap dan perilaku senior yang merasa paling berpengalaman, merasa paling benar, merasa paling berkuasa, merasa berada di atas angin, membuat mereka menjadi semakin sombong, tinggi hati, dan sulit bahkan enggan untuk menerima kebenaran dan masukan positif dari para juniornya.

Bisa dikatakan para senior lupa diri, kalau kamu perhatikan, sebenarnya selama ini apakah mereka telah mengabdikan dirinya dengan baik untuk sekolahnya? Apakah mereka sudah banyak berjasa untuk sekolahnya? Apakah mereka sudah berkontribusi positif untuk sekolahnya? Atau yang mereka lakukan hanya agar terlihat keren dengan menjadi seorang organisator, hanya ingin dilihat orang lain sebagai seorang senior yang disegani, dilihat sebagai orang penting disekolahnya, dilihat sebagai orang yang punya jabatan tinggi, punya pengaruh, padahal kontribusinya untuk sekolah nol besar.

Semoga kita dijauhi dari hal yang demikian.

Melihat kenyataan yang ada, terkadang saya merasa prihatin melihat tingkah dan kesewenang-wenangan para senior yang saya katakan memiliki akhlak yang bobrok di dalam organisasinya.

Saya tidak mengatakan semua senior berlaku seperti itu. Tidak semua seperti itu. Saya hanya mengkritisi senior-senior yang menurut saya tidak mengajarkan dan mencontohkan seseuatu yang baik dan positif kepada para bawahannya.

Dari sinilah saya merasa terpanggil untuk memperbaiki ini semua. Karena awalnya tujuan saya masuk organisasi adalah untuk mengabdi pada sekolah dengan apa yang bisa saya lakukan salah satunya lewat jalan organisasi.

Pada saat itu saya berpikir, kalaupun ketika menjadi senior nanti saya tidak menjadi ketua OSIS, setidaknya saya akan berusaha mencontohkan menjadi seorang senior yang baik dalam berorganisasi kepada generasi penerus berikutnya.

Tapi ternyata takdir berkata lain, banyak sekali kemudahan-kemudahan yang saya dapatkan lebih dari apa yang saya pikirkan. Takdir menuntun saya menjadi seorang ketua OSIS dan memegang amanah sebagai pemimpin organisasi nomor satu di sekolah.

Yaps… Ini kesempatan besar bagi saya untuk mengubah paradigma dan kebiasaan yang sudah tidak efektif, tidak bermanfaat, tidak membawa perubahan baik, dan tidak menguntungkan lagi.

Sebagai manusia biasa yang penuh dengan kekurangan, saya sadar bahwa saya tidak bisa mengubah sekaligus secara langsung tradisi yang telah melekat dalam pola pendidikan organisasi di sini. Maka dalam waku yang singkat selama kurang lebih satu setengah tahun menjabat saya berusaha mengubah kebiasaan-kebiasaan lama sedikit demi sendikit, membuat terobosan-terobosan baru untuk meletakkan pola pendidikan organisasi yang lebih ramah dan bermoral.

Tentunya semua dimulai dari diri saya sendiri terlebih dahulu. Sebagai pemimpin kamu harus menyadari bahwa kamu mempunyai tanggung jawab di pundak yang harus kamu pikul. So, jalankan tanggung jawab itu dengan sebaik-baiknya, berusahalah untuk menjadi sebaik-baiknya pemimpin. Pemimpin yang mampu memberikan contoh dan suri tauladan yang baik bagi anggota-anggotanya.

Perbaiki niat dan tujuan kamu sebagai pemimpin, karena dua hal itu yang mendasari setiap langkah kamu sebagai pemimpin.

Jika niat dan tujuannya baik dan benar, setiap langkah dan kebijakan yang kamu ambil pun akan baik dan benar untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Tetapi sebaliknya, jika niat dan tujuan kamu dalam memimpin tidak benar, buruk, dan menyimpang, kemungkinan besar setiap langkah dan kebijakan yang kamu ambil pun tidak akan menimbulkan kemaslahatan justru malah memadharatkan.

Langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah menyamakan visi dan pemikiran saya dengan partner kerja dan pengurus-pengurus OSIS yang memegang jabatan krusial dalam sebuah organisasi.

Dalam langkah ini sedikit sulit untuk dilakukan, karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda, sangat sulit menjadikan banyak kepala ke dalam satu pemikiran. Memang tidak seharusnya seperti itu, karena organisasi di bangun di atas beragam perbedaan untuk mencapai sebuah keseimbangan dan kesempurnaan.

Maka dalam hal ini kamu tidak perlu menjadikan setiap partner kerja kamu harus sepemikiran dengan kamu, minimalnya kamu bisa menarik setengahnya atau sedikitnya jika memang dia memiliki peran strategis dan pengaruh yang besar dalam sebuah organisasi, itu sudah lebih dari cukup untuk membawa paradigma baru yang lebih baik.

Untuk orang-orang yang pemikiranya tidak sejalan dengan kamu, jadikan mereka sebagai check and balance setiap kinerja yang telah kamu lakukan. Mereka sangat penting dan harus ada dalam organisasi sebagai pengoreksi, penyeimbang, sekaligus pengontrol terhadap kepemimpinan kamu agar tidak keluar dari koridor atau jalur yang telah ditetapkan.

Langkah terakhir adalah membangun hubungan baik dengan para anggota, singkirkan sekat dan kesenjangan yang menjadi penghalang antara junior dan senior. Jangan merasa khawatir jika terlalu dekat dengan anggota, kebanyakan para senior merasa takut kehilangan wibawanya dihadapan junior, padahal tidak selalu seperti itu.

“Pemimpin sejati akan tetap berwibawa, dihormati, dan disegani tanpa diminta sekalipun.”

Jadilah pemimpin yang mampu mendidik bawahannya dengan baik, ciptakan hubungan yang harmonis, ciptakan kerjasama yang bersinergi, dan lakukan berbagai macam pendekatan untuk menyerap sebanyak mungkin informasi dari bawahan untuk kepentingan dan kemajuan sebuah organisasi.

Ingat, organisasi bukan hanya milikimu seorang, bukan hanya miliki para senior di dalamnya, tetapi milik bersama, bawahanmu berhak untuk menyampaikan aspirasi dan pendapatnya demi kemajuan organisasi. Pertimbangkan dengan baik setiap masukan yang ada tanpa pandang dari siapa masukan itu berasal, pengen dia junior atau senior kamu harus tetap adil dan fair dalam mempertimbangkannya.

Buat mereka memiliki kebebasan untuk mengeluarkan ide-ide brilian dan segala pemikirannya. Jangan batasi, jangan mengekang, dan jangan membuat mereka merasa ketakutan dengan tindakan senioritasmu itu.

Dengan begitu, kamu akan terkejut bahwa sebenarnya selama ini kamu memiliki banyak harta yang berharga, memiliki banyak problem solver, memiliki banyak organisator-organisator handal, memiliki banyak orang-orang yang kreatif dan inovatif, memiliki banyak ide-ide cemerlang, memiliki banyak terobosan-terobosan positif, dan banyak lagi keuntungan-keuntungan lainnya yang bisa kamu dapatkan. Jelas ini akan mempermudah kerja kamu sebagai pemimpin.

Kamu harus sadari bahwa junior-junior kamu adalah sumber daya manusia yang memiliki banyak kelebihan dan potensi yang besar. Jika kamu pandai mengelolanya, efektifitas kamu dalam memimpin akan menjadi lebih baik lagi dan organisasi di bawah kepemimpinanmu memiliki potensi besar untuk maju dengan pesat.

Kesimpulannya, tidak ada salahnya menciptakan metode atau pola berorganisasi yang menyenangkan namun lebih bermakna dalam. Hindari senioritas yang menyebabkan adanya kesenjangan dan rasa ketidaknyamanan satu sama lain. Ciptakan lingkungan berorganisasi yang ramah dan menyenangkan untuk mencapai pendidikan berorganisasi yang lebih mendidik, efektif, bermoral, dan menguntungkan dalam berbagai aspek.

Husna Hisaba

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan

*