Ilmu Dakwah – Pengertian, Hakikat, Pembagian, Kegunaan, dan Keutamaannya

Husnahisaba.com – Eksistensi dakwah secara praktis tidak diragukan lagi oleh semua pihak. Dalam konteks Islam, dakwah diakui memainkan peran strategis sebagai upaya internalisasi, sosialisasi, publikasi, dan intitusionalisasi nilai-nilai Islam kepada umat manusia. Secara teoritis, para pemerhati dan ahli dari berbagai bidang ilmu berkesimpulan bahwa dakwah sudah menjadi ilmu tersendiri. Dakwah bukan sekadar bagian dari ilmu Agama melainkan bagian dari ilmu Sosial.

Melalui dakwah ajaran Islam dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Melalui dakwah pula ajaran Islam dapat diamalkan oleh para pemeluknya sehingga tercermin dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Keberhasilan dakwah dalam membangun peradaban manusia yang lebih baik, sejatinya harus menjadi prestasi yang terus dipertahankan dan ditingkatkan. Upaya optimalisasi kuantitas dan kualitas seorang pendakwah atau siapa pun yang bergerak di bidang dakwah haruslah menjadi perhatian besar.

Pengertian Ilmu Dakwah

Ilmu dakwah terdiri dari dua kata, ilmu dan dakwah. Ilmu berasal dari akar kata ‘alima-ya’lamu-‘ilman, yang berarti pengetahuan. Secara istilah berarti pengetahuan, baik natural maupun sosial, yang sudah diorganisasikan serta disusun secara sistematis menurut kaidah umum. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilmu dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) itu.

Sedangkan dakwah berasal dari kata Da’a-yad’u-da’watan yang bermakna seruan, panggilan, undangan, atau do’a. Menurut Abdul Azis, secara bahasa, dakwah bisa berarti: (1) memanggil; (2) menyeru; (3) menegaskan atau membela sesuatu; (4) perbuatan atau perkataan untuk menarik manusia kepada sesuatu; serta (5) memohon dan meminta.

Dakwah secara istilah dapat diartikan mengajak manusia ke jalan Allah dengan satu sistem yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Ibnu Taimiyyah memandang bahwa dakwah dalam arti seruan kepada al-Islam adalah untuk beriman kepada-Nya dan kepada ajaran yang dibawa para utusan-Nya, membenarkan berita yang mereka sampaikan, serta menaati perintah mereka. Hal tersebut mencakup ajakan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan melaksanakan haji. Juga mencakup ajakan untuk beriman kepada Allah, malaikat-Nya, para utusan-Nya, hari kebangkitan,qada dan qadar-Nya yang baik maupun yang buruk, serta ajakan untuk beriman kepada-Nya seolah-olah melihat-Nya.

Dapat disimpulkan bahwa Ilmu Dakwah adalah ilmu yang mengkaji proses dakwah secara sistematis, logis, empiris, teologis, dan filosofis. Atau menurut Tata Sukayat dalam bukunya disimpulkan bahwa Ilmu Dakwah adalah pengetahuan yang sudah diorganisasikan serta disusun secara sistematis menurut kaidah umum dalam mengajak dan menyeru manusia untuk mengetahui, memahami, meyakini, serta mengamalkan ajaran Allah secara murni dan konsekuen dengan penuh kesadaran serta menggunakan media atau metode tertentu.

Hakikat Mempelajari Ilmu Dakwah

Kajian dakwah sebagai suatu disiplin ilmu hingga saat ini belum banyak dibicarakan, terutama menyangkut apa yang dikaji (ontologi), bagaimana cara memperolehnya (epistemologi), dan untuk apa ilmu itu dipergunakan (aksiologi). Hal ini dapat dipahami karena latar belakang lahirnya Ilmu Dakwah pada awalnya lebih mempertimbangkan aspek praktisnya – umat Islam sangat membutuhkan da’i yang memiliki kualifikasi akademik agar kegiatan dakwah Islam mampu mengantisipasi berbagai problem umat Islam.

Menjadi tanggung jawab yang harus dipikul oleh masyarakat Islam agar aktivitas dakwah bergerak sesuai dengan koridor-koridor yang diatur dalam ilmu dakwah dengan kualifikasi akademik. Hal itu diperuntukkan agar kegiatan dakwah Islam dapat berjalan dengan efektif dan optimal.

Muncul Pemikiran baru bahwa dakwah merupakan pengetahuan praktis yang berarti tugas budaya dakwah sebagai keilmuan kebudayaan adalah menyalurkan dan melestarikan nilai-nilai aspek kebudayaan dari generasi satu ke generasi berikutnya untuk dikembangkan ke arah yang lebih baik dan sempurna. Maka dari itu, timbullah rumusan atau batasan istilah tentang Ilmu Dakwah.

Dapat ditegaskan bahwa Ilmu Dakwah adalah ilmu yang berfungsi mentransformasikan dan menjadikan manhaj (kayfiyat) dalam mewujudkan ajaran Islam menjadi tatanan Khayr al-Ummah atau manhaj dalam mewujudkan iman menjadi amal saleh.

Hakikat Ilmu Dakwah adalah membangun dan mengembalikan manusia kepada fitrah, meluruskan tujuan manusia, meneguhkan fungsi manusia sebagai khalifah dan pengemban risalah, serta sebagai upaya manifestasi dari rahmatan lil’alamin.

Pembagian Ilmu Dakwah

Ilmu Dakwah dapat dibagi menjadi lima bagian besar, yaitu:

  1. Tabligh, yaitu berdakwah dengan lisan, tulisan, proses bimbingan, penyuluhan, dan solusi dari setiap problem psikologis-sosiologis dalam kehidupan yang dihadapi umat manusia
  2. Ta’lim, yaitu proses pengajaran dan pembelajaran Islam secara mendalam.
  3. Tatbiq, yaitu kegiatan dakwah dengan gerakan langsung di masyarakat dalam mengimplementasikan nilai-nilai ajaran Islam.
  4. Unsur-Unsur Dakwah, yaitu komponen-komponen yang berhubungan dengan sukses atau tidaknya kegiatan dakwah.
  5. Problematik Dakwah, yaitu materi Ilmu Dakwah yang berkaitan dengan permasalahan dakwah dan solusinya.

Kegunaan Ilmu Dakwah

Kajian filsafat ilmu, menamakan pembahasan pada bab ini dengan istilah aksiologi, yang mempertanyakan tujuan dan kegunaan suatu ilmu. Apakah suatu ilmu hanya merupakan penjelasan objektif terhadap realitas, atau teori ilmu pengetahuan untuk mengatasi berbagai masalah yang relevan dengan realitas bidang kajian ilmu tertentu.

Berkaitan dengan kegunaannya, Ilmu Dakwah tidak dapat dilepaskan dari urgensi, kegunaan, dan manfaat dakwah. Posisi dan fungsi dakwah begitu dibutuhkan bagi kehidupan umat manusia karena dakwah merupakan upaya memberi jawaban atas pertanyaan dan persoalan yang dihadapi umat manusia. Bahkan merupakan sebuah proses penyelematan umat manusia dari berbagai belenggu pemikiran, pemahaman, sikap, serta perilaku yang merugikan agar manusia mau dan mampu berbuat baik kepada sesama.

Manusia pada dasarnya memang membutuhkan dakwah, diantara kegunaan dakwah adalah sebagai berikut:

  1. Kebutuhan manusia terhadap dakwah melebihi kebutuhan mereka terhadap makanan. Tubuh membutuhkan makanan untuk bisa tegak dan menjalankan aktivitas, sedangkan hati lebih membutuhkan siraman dakwah agar iman tumbuh subur di dalamnya.
  2. Dakwah melahirkan kebaikan terhadap individu, masyarakat, dan negara.
  3. Dakwah menjadikan manusia lebih mulia. Jika proses dakwah berjalan dengan baik, akan tercipta sebuah tatanan masyarakat yang harmonis, menjunjung tinggi nilai kemuliaan, dan menghindarkan diri dari perilaku keji yang berujung pada kehinaan.
  4. Dakwah adalah jalan menuju kebahagiaan. Orang-orang yang berjalan di atas dakwah akan merasa bahagia karena mereka melaksanakan perintah Allah SWT. Dakwah menjadikan hati tenang dan lapang karena hidayah Allah SWT.
  5. Dakwah menjauhkan manusia dari kehancuran. Dakwah berarti menyeru atau mengajak manusia kepada suatu sistem yang diridhai Allah SWT. yaitu Islam. Allah Maha Mengetahi mana yang terbaik untuk hamba-Nya dengan memberikan rambu-rambu sehingga tercipta kehidupan yang teratur dan tenang.
  6. Dakwah adalah investasi amal tanpa batas. Orang yang senantiasa berdakwah mengajak manusia untuk berbuat baik sesuai dengan ajaran Islam, berarti ia telah berinvestasi untuk akhirat tanpa batas.
  7. Dakwah menjadikan manusia lebih produktif dalam beramal. Dakwah bukan sekedar rangkaian kata-kata yang tersusun menjadi kalimat yang keluar dari lisan, melainkan disampaikan dengan lisan dan diwujudkan dengan amal nyata.

Keutamaan Ilmu Dakwah

Keberadaan Ilmu Dakwah cukup dirasakan penting dan mempunyai kedudukan yang sangat strategis. Keberadaan dakwah Islam disebut strategis karena pada tahap operasional kegiatan dakwah lebih dominan berperan dalam sosialisasi dan institusionalisasi konsep-konsep Islam di tengah masyarakat. Oleh karena itu, tanpa kegiatan dakwah, upaya pengembangan dan pemasyarakatan sistem keilmuan Islam menjadi lambat.

Dakwah memiliki banyak keutamaan, diantaranya:

Pertama, dakwah adalah tugas utama para rasul. Seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah memikul tugas utama yaitu berdakwah, Keutamaan dakwah terletak pada disandarkannya kerja dakwah ini terhadap manusia yang paling utama dan mulia, yaitu para nabi dan rasul.

Kedua, dakwah adalah amal perbuatan yang terbaik (ahsanul a’mal). Sayyid Quthb berkata, dalam Fi Zhilal Al-Qur’an: “Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat terbaik yang diucapkan di bumi ini, ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat baik lainnya. Akan tetapi, ia harus disertai dengan amal saleh yang membenarkannya, dan disertai penyerahan diri kepada Allah…”

Ketiga, dakwah akan diganjar oleh Allah dengan balasan yang besar dan berlipat ganda. Hal tersebut dapat ditemukan dalam salah satu sabda Rasulullah SAW. berikut: “Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikit pun pahala mereka yang mencontohnya” (HR. Muslim).

Keempat, dakwah pada saat sama adalah nasihat bagi diri sendiri. Dengan demikian, sebelum bermanfaat bagi orang lain, dakwah sudah memberikan manfaat bagi pendakwahnya. Dengan berdakwah seseorang akan terpacu untuk senantiasa belajar dan beramal saleh, sebagaimana yang ia dakwahkan kepada orang lain.

Kelima, dakwah merupakan penyelamat dari azab Allah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Al- A’raf, [7]: 164-165). Dalam ayat tersebut, dengan tegas dinyatakan bahwa meskipun masyarakat sudah sangat sulit diajak menjadi baik, kita tetap harus memberikan nasihat agar mempunyai alasan dihadapan Allah yang bisa menyelamatkan kita dari azab-Nya yang dahsyat.

Mengingat fungsi dan perannya yang demikian penting serta menentukan, dakwah dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya harus dipahami secara tepat dan benar sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadits.


Sumber Referensi:

Amin, Samsul Munir. 2008. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah.

Nazir, Moh. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sudarmin. 1994. Filsafat Proses Suatu Pengantar Sistematik Filsafat Alfred North Witcheed. Jogjakarta: Cansius.

Sukayat, Tata. 2015. Ilmu Dakwah Perspektif Filsafat Mabadi ‘Asyarah. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Taymiyyah, Syekh Ibn. 1398 H. Majmu al-Fatawa, Juz XV. Saudi: al-Tab’ah al-Sa’udiyah.

Yasri, Muhammad. 2006. Mabadi al-Dakwah wa al-Da’iyah. Beirut: Muassasah al-Risalah.

Husna Hisaba

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan

*