Falsafah Hidup Apri Mauladi – Mengungkap Sisi Lain Apri yang Penuh Intrik

Husnahisaba.com – Tidak lama sebelum saya memutuskan untuk menulis tentang sosok Apri Mauladi di blog ini, saya sempat berbincang-bincang terlebih dahulu dengannya lewat media online membahas berbagai hal sekaligus meminta izin untuk menceritakan sedikit dari banyaknya pengalaman dan pandangan hidup Apri yang tidak banyak diketahui oleh orang lain.

Sebuah kehormatan, kebanggaan, dan penghargaan besar bagi saya karena bisa mendapatkan izin untuk menuliskan sepenggal kisah tentangnya, seorang inspirator sekaligus guru bagi saya sendiri, yaitu Apri Mauladi.

Menurut saya, sangat disayangkan sekali jika perjalanan hidup seorang Apri ini tidak diungkap dan diambil pelajaran berharganya, terutama mengenai pandangan hidupnya yang begitu luas serta mendalam terhadap apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan.

Tulisan ini memuat fakta dan hipotesis berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama tiga tahun di masa Aliyah (setingkat SMA) berteman dengannya. Namun, unsur penilaian yang terdapat di dalam tulisan ini bersifat subjektif berdasarkan sudut pandang saya sendiri.

Bukan berarti saya adalah orang yang paling tahu tentang Apri. Tapi demi meyakinkan kamu akan keakuratan apa yang saya sampaikan mengenai Apri, kamu perlu tahu bahwa saya dan Apri selama sekolah duduk dalam satu meja yang sama dan dalam waktu yang cukup lama, sehingga saya tahu betul bagaimana kehidupan Apri di sekolah, apa isi kepalanya, sikapnya, tabiatnya, perbuatannya, kelebihannya, kekurangannya, dan berbagai hal tentangnya.

Sebagian sisi kepribadian Apri sudah saya dokumentasikan dalam sebuah novel berjudul Padang Ilalang, sebuah novel yang menceritakan sedikit banyaknya sifat dan karakteristik Apri yang dikemas dalam bentuk fiksi. Bahkan di halaman pertama novel tersebut, saya mengutip perkataan Apri mengenai makna kebahagiaan.

Nyatanya menceritakan atau menuliskan kelebihan dan keistimewaan sosok misterius yang satu ini memang tidak akan ada habisnya. Belum lagi jika ditulis dari sudut pandang yang berbeda-beda, bagaikan buih di lautan, tak terhitung banyaknya asumsi yang akan tertulis tentang dia.

Dalam satu objek kajian tentang Apri yang terfokus saja seseorang bisa mendapatkan banyak hal. Apalagi jika objek kajiannya diurai menjadi banyak objek bahasan, betapa banyaknya ilmu dan informasi berharga yang bisa didapatkan darinya.

Saya hanya ingin memberitahu kepada kamu bahwa tulisan yang saya tulis pada blog ini mengenai Apri hanyalah bagian terkecil dari keseluruhan kisah hidupnya. Jangan merasa cukup dan kenyang dalam memahami sosok pria tangguh yang satu ini hanya dari membaca tulisan saya. Eksplorasi lebih luas lagi dan temukan rahasia besar kehidupannya.

Sebelum saya mengungkap sisi lain Apri yang penuh intrik dari sudut pandang saya, akan lebih baik jika saya mengenalkan sedikit kepada kamu siapa pria ini.

Apri Mauladi hanyalah manusia biasa, bukan nabi, bukan rasul, bukan malaikat, bukan pula orang yang terkenal macam artis papan atas. Ia adalah orang biasa dengan pandangan hidup yang luar biasa.

Usianya masih muda, namun pemahamannya terhadap realita kehidupan di depan matanya sendiri sangatlah luas dan mendalam. Ia mampu melihat satu hal dari berbagai sudut pandang dan mampu menciptakan berbagai macam kemungkinan yang mewakili banyak pemikiran.

Setiap orang yang melihatnya pasti akan memunculkan berbagai kesan dan penilaian multitafsir karena memang Apri tidak akan pernah menjadi dirinya sendiri di hadapan orang lain.

Apri adalah manusia langka yang mampu memainkan banyak peran dalam hidupnya. Jika kamu bertanya mengenai sosok Apri kepada banyak orang yang berbeda, mereka belum tentu memberikan jawaban yang sama.

Liciknya, Apri selalu mempunyai intrik dan strategi besar untuk menyembunyikan jati diri yang sebenarnya. Bahkan ia rela digempur dalam berbagai kondisi dan situasi demi melidungi rahasia besar hidupnya yang ia jaga dan sembunyikan dengan protokol super ketat.

Tulisan ini akan mengungkap sisi lain Apri yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang, bahkan teman dekatnya sekalipun. Saya selaku orang yang sempat berteman lama dengan Apri, sedikit banyaknya berhasil memotret sisi lain Apri yang mungkin tidak kamu ketahui.

Mengapa saya harus menuliskannya?

Jawabannya sederahana, yaitu untuk belajar lebih banyak dari sosok pria misterius yang satu ini. Dengan harapan kita bisa mengambil pelajaran hidup yang positif darinya.

Mari kita ungkap satu per satu sisi lain Apri yang bisa kita ambil pelajaran positif.

Pelajaran 1: Berpegang Teguh pada Idealisme Hidupnya

Buka Apri namanya kalau tidak memegang kuat-kuat prinsip dalam menjalankan kehidupannya. Pengen disuap oleh uang sebanyak apa pun juga, tidak akan mampu melunturkan idealisme hidupnya yang ia pegang erat.

Demi mempertahankan idealismenya itu ia rela hidup dalam penderitaan. Justru baginya, apa yang orang lain anggap sebagai penderitaan, ia anggap sebagai taman kebahagiaan.

Jika kamu pernah melihat dan merasa bahwa Apri sedang menderita dengan kehidupannya, percayalah, dalam penderitaannya itu ada kebahagiaan manis yang sedang ia rasakan dalam mempertahankan idealisme hidupnya yang agung itu.

Sosok misterius yang satu ini memang terlihat berbeda dari yang lainnya. Bagi kebanyakan orang, berbeda dari kebanyakan atau hidup sebagai minoritas sangat tidak menyenangkan. Tapi ia sama sekali tidak mempermasalahkan itu, ia sangat enjoy dengan apa adanya dirinya. Semua itu didasari oleh keteguhannya dalam berprinsip.

Ia tidak mudah dipengaruhi dan terpengaruh oleh orang lain. Justru ia yang secara langsung atau tidak langsung membawa orang lain hanyut di arus hidupnya.

Termasuk saya sendiri korbannya, terus terang saya sangat kagum terhadap Apri dan pandangan hidupnya. Sehingga doktrin yang ia bawa mudah terserap dalam pemikiran saya sendiri. Ia juga banyak menyampaikan ungkapan-ungkapan paradoks yang membuat saya berpikir sangat keras untuk mencerna dan memahaminya.

Dan ketika itu pula saya berkata kepada diri saya sendiri, “Benar juga, ya.”

Kalau kamu berkesempatan berbincang-bincang dengannya, kamu akan menemukan pandangan-pandangan hidup yang tidak biasa, paradoks, dan secara tidak sadar kamu membenarkannya.

Pelajaran 2: Melihat di Balik Apa yang Terlihat

Tidak banyak orang yang memiliki keahlian yang satu ini. Apri merupakan orang yang berhasil dan terbiasa membangun sebuah pandangan jauh melampaui pandangan pada umumnya. Melihat segala sesuatu lebih tajam dan mendalam di balik apa yang hanya bisa dilihat oleh mata manusia.

Seperti memiliki indra keenam. Ia mampu melihat sesuatu yang tersirat, mampu memahami maksud yang tersembunyi, dan mampu menafsirkan dengan baik apa pun yang ia lihat dengan matanya sendiri.

Seperti seorang filsuf. Dalam menganalisis sebuah permasalahan di depan matanya, bukan masalah yang tampak yang ia fokuskan, melainkan apa yang ada di balik masalah itu, mencari akar permasalahan dan menginvestigasinya. Sehingga masalah yang tampaknya sangat sederhana bisa terlihat sangat kompleks di matanya, karena ia tidak melihat masalah itu mentah-mentah apa adanya, pandangannya jauh melebihi apa yang sekedar terlihat oleh mata.

Kelebihan melihat di balik apa yang terlihat adalah seseorang tidak akan mudah dibohongi atau dikelabui. Dan dengan cara ini juga kamu bisa melihat berbagai macam kemungkinan baik dan kemungkinan buruk dari berbagai hal.

Kemampuan ini juga banyak digunakan oleh para politisi dalam menyusun sebuah strategi politiknya dan dalam menganalisis strategi lawan politik. Tak heran jika sosok Apri pandai dalam memainkan intrtik untuk berbagai macam tujuan dan kepentingan.

Pelajaran 3: Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Kejujuran

Di dunia yang semakin sakit seperti sekarang ini, kejujuran merupakan barang yang sangat mahal. Orang yang memilih jalan ini haruslah benar-benar kuat mental dan tahan banting karena akan menghadapi berbagai tekanan.

Dan Apri dengan kekuatan idealismenya memilih jalan ini sebagai jalan ninjanya. Menakjubkan sekali.

Sepanjang saya mengetahui sosok yang satu ini, ia merupakan orang yang memiliki kejujuran dan integritas yang sangat tinggi.

Terbukti ketika ujian-ujian berlangsung, ia lebih memilih mendapatkan nilai kecil hasil keringat sendiri daripada mendapat nilai yang besar namun hasil mencontek. Ini menunjukkan bahwa ia menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya.

Apri secara tidak langsung telah menjadi pemotor pendidikan kejujuran untuk menciptakan generasi-genrasi penerus bangsa yang anti korup.

Menjadi orang yang jujur di lingkungan orang-orang yang tidak jujur memang sangat tidak enak. Belajar dari Apri, dengan kekuatan idelismenya dia mampu mempertahankan niat baiknya itu. Dan percayalah sesuatu yang baik dan buruk pasti ada balasannya. Sederhananya apa yang ia lakukan bisa dibilang menabung karma baik dalam hidupnya.

Pelajaran 4: Orang yang Sangat Peka

Rata-rata kebanyakan laki-laki memiliki tingkat kepekaan yang sangat rendah. Berbeda dengan Apri yang sangat peka terhadap apa pun yang ia temui di lingkungannya.

Bukan hanya peka terhadap sesama manusia tetapi juga peka terhadap berbagai macam problematika yang ia temui di kehidupannya. Ia mampu menganalisis masalah, memahami masalah dengan baik, hingga mencapai sebuah konklusi dan solusi dari masalah tersebut.

Tapi sayangnya Apri jarang menyuarakan hasil pemikirannya kepada orang lain. Apri lebih memilih diam dan menyimpan solusi itu untuk dirinya sendiri. Hal ini yang tidak saya suka darinya. Ia selalu berdalih dengan ketidakpercayaan dirinya sendiri.

Ia selalu merasa orang lain lebih baik darinya sehingga apa yang ia hasilkan dari caranya memecahkan sebuah permasalahan, malah ia simpan untuk dirinya sendiri, tidak untuk orang lain.

Ada banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari kepekaan manusia yang satu ini, termasuk memahami dengan baik apa yang orang lain rasakan dan butuhkan. Bukan karena dia memiliki kelebihan bisa membaca isi hati orang lain, tapi lebih kepada bagaimana dia menganalisis dan menanggapi dengan baik respon dari orang lain.

Mungkin kita melihat Apri sebagai orang yang acuh tak acuh atau tidak peduli terhadap sekitarnya, tapi jauh di balik itu, jika kita ungkap sisi lain dari Apri, sesungguhnya dia mengetahui dan mengamati dengan baik apa yang ada di sekitarnya termasuk menganalisis berbagai permasalahan serta menciptakan solusi yang ia buat untuk dirinya sendiri, meskipun seharusnya solusi itu ia tawarkan juga untuk orang lain.

Pelajaran 5: Orang yang Bijaksana

Apri termasuk orang yang sedikit berbicara dan lebih banyak diam. Ia memilih diam bukan karena dia tidak mengetahui apa-apa, bukan karena isi kepalanya yang kosong. Ia diam karena kebijaksanaannya.

Entah apakah Apri mengetahui bunyi hadits yang satu ini atau tidak, tapi tindakan yang ia lakukan selaras dengan sabda Rasul SAW. yang artinya sebagai berikut: “Diam adalah kebijaksanaan, dan hanya sedikit sekali orang yang mengerjakannya.”

Apri memang sangat humoris. Terhadap teman-teman dekatnya ia merupakan orang yang sangat menyenangkan dan menghibur. Tapi di sisi lain Apri juga merupakan orang yang banyak diam dan sedikit berbicara karena kebijaksanaannya. Sudah saya singgung di awal bahwa Apri tidak pernah menjadi dirinya sendiri di hadapan orang lain.

Dalam keadaan seperti ini biasanya sekalinya ia berbicara, ucapannya akan sangat bernilai dan mengandung kebenaran yang secara tidak langsung menjadi penawar bagi banyak permasalahan.

Dalam sebuah momen, saya pernah melihat ekspresi kemarahan sosok Apri yang begitu elegan. Namanya manusia biasa yang kadangkala tidak bisa menahan emosi yang sudah overload, sehingga menimbulkan kemarahan, namun berbeda dengan kebanyakan orang dalam keadaan marah.

Saya menjadikan kemarahan Apri sebagai pelajaran berharga dan sedikit demi sedikit saya terapkan dalam diri saya sendiri. Jadi, Apri itu mengekspresikan kemarahannya hanya dengan diam. Mulutnya tidak berbicara sedikit pun untuk mengekspresikan kemarahannya. Ia hanya diam dan duduk manis di atas bangkunya. Sungguh elegan sekali. Namun tetap saja raut wajah marahnya tidak bisa disembunyikan, saya bisa melihatnya dengan sangat jelas.

Pelajaran 6: Persoalan Agama jangan Ditanya

Soal agama tidak usah diragukan lagi, Apri telah menempuh pendidikan agama sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia telah belajar di sekolah berbasis agama atau biasa disebut madrasah.

Sehingga persoalan-persoalan agama sudah melekat betul dalam kepalanya. Jika dihitung, kurang lebih 12 tahun lamanya ia mempelajari agama Islam di madrasah.

Bukan hanya mumpuni dari segi keilmuan, tapi dalam penerapannya pun ia merupakan orang yang religius dan selalu berjalan di atas koridor-koridor agama dalam menjalankan kehidupannya.

Pandangan dan pemahamannya terhadap ilmu-ilmu keagamaan sangat luas. Dan yang membuat saya sangat kagum adalah dari caranya menghargai perbedaan dalam masalah agama.

Dalam Islam sendiri terdapat beberapa perbedaan paham atau pandangan. Nah, saya dan Apri memiliki perbedaan itu. Namun ia selalu bisa menghargai saya dan siapa pun yang berbeda pandangan dengannya dalam masalah agama.

Saya jadi teringat perkataan salah seorang ulama yang mengatakan bahwa semakin luas pengetahuan seseorang, maka semakin besar toleransinya. Dan itu sudah Apri terapkan dalam kehidupannya.

Pada dasarnya ia bisa saja membantah dan membela pandangan beragamanya dengan gagasan yang kuat. Tapi demi menghargai perbedaan ia urung untuk melakukan itu. Sungguh toleransi yang luar biasa besarnya. Ini menjadi pelajaran positif yang perlu kamu teladani dari sosok Apri.

Pelajaran 7: Pemilik Kepribadian Introvert

Jika kita kategorikan antara introvert dan ekstrovert. Maka Apri yang sesungguhnya berdasarkan pandangan saya masuk ke dalam kategori introvert. Meskipun kita tahu ia tidak pernah menjadi dirinya sendiri yang sebenarnya di hadapan orang lain. Tapi introvert merupakan kemungkinan terbesar kepribadian yang dimilikinya.

Tapi ada sesuatu yang menarik dari kepribadiannya itu, dia memang bisa dikatakan introvert, tapi kamu mungkin tidak menyadari bahwa ia juga adalah sosok yang ekstrovert dalam satu dan lain hal. Tapi tidak bisa pula dikatakan bahwa ia ambivert.

Ia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap orang lain dan sering mengupayakan jalan keluar bagi banyak orang di sekitarnya. Introvert memang sering diam dan tidak banyak tingkah, tapi pikirannya sangat ramai memikirkan banyak hal, bahkan boleh jadi diamnya seorang introvert karena pikirannya sedang berkecamuk memecahkan berbagai persoalan yang ada di depan matanya.

Ia tidak akan mengeluarkan buah dari pemikirannya itu dan memilih untuk diam kecuali kalau ia benar-benar yakin bahwa apa yang ia katakan nantinya bisa memberikan solusi yang terbaik. Kemungkinan lainnya ia lebih memilih memendam sendiri solusi buah dari pemikirannya ketimbang ia utarakan kepada orang lain. Sangat disayangkan sekali.

Ia memang orang yang tidak banyak berbicara dan lebih memilih diam dalam berbagai situasi dan kondisi, seperti yang sudah saya sampaikan pada pelajaran mengenai Apri sebelumnya, sekalinya berbicara, perkatannya itu sangatlah bernilai dan berharga, bisa menjadi solusi bagi banyak permasalahan.

Pelajaran 8: Hati-Hati terhadap Perasaan Orang Lain tapi Ceroboh terhadap Perasaannya Sendiri

Kalau saya melihat bagaimana Apri berinteraksi dengan orang lain, ia memang selalu berusaha membuat orang lain senang, gembira, tersenyum, bahkan tertawa.

Tapi kalau saya perhatikan lebih jauh lagi, ia sangat ceroboh terhadap perasaannya sendiri. Demi membuat orang lain bahagia, ia rela dijadikan sebagai bahan lelucon, bahan ledekan, direndahkan, dan perbuatan-perbuatan yang jelas itu berpotensi melukai perasaannya.

Sebuah tindakan yang mulia, dan hanya orang-orang bermental bajalah yang bisa melakukan itu. Apri seperti sudah tidak peduli lagi dengan dirinya sendiri. Yang ia pedulikan adalah bagaimana orang lain bisa bahagia meskipun ia menjadi korbannya.

Bukannya marah atau sakit hati, justru ia menanggapinya dengan respon yang positif, dengan kegembiraan pula, saya tidak mengerti dan tidak tahu pasti bagaimana isi hati dan perasaannya, tapi dari raut wajah dan tingkah lakunya sama sekali tidak menunjukkan adanya beban dan luka yang ia dapatkan atas kecerobohannya pada perasaannya sendiri.

Pantaslah jika Apri ini dikatakan sebagai sosok pria sejati atas kelapangan hatinya.

Pelajaran 9: Realistis Memandang Kehidupan

Setiap kali saya berbicara dengan Apri, ketika saya mengungkapkan bagaimana khayalan-khayalan saya terhadap kehidupan itu bekerja. Ia terkadang meresponnya dengan tanggapan-tanggapan yang realistis terhadap kehidupan yang memang tidak terpikirkan oleh saya sendiri.

Dari situ saya berkesimpulan bahwa pandangannya terhadap kehidupan jauh ke depan melampaui masanya. Saya yakin pengalamannya terhadap kehidupan belum terlalu banyak, tidak sebanyak orang-orang yang telah berumur, yang terbukti telah melalui manis pahitnya kehidupan.

Sosok Apri yang usianya dua tahun lebih muda dari saya, bisa melihat dan berpandangan layaknya orang-orang dewasa yang telah kenyang akan pengalaman hidup.

Apa yang keluar dari mulutnya mengenai pandangannya terhadap kehidupan bukanlah isapan jempol semata, menurut saya apa yang disampaikannya benar-benar realitstis dan mengandung kebenaran yang telah dibuktikan oleh banyak orang di dunia.

Tak habis pikir, saya sendiri kebingungan, dari mana dia mendapatkan semua fakta-fakta mengenai kehidupan yang masih samar bagi laki-laki usia remaja. Saya jadi teringat tokoh Henry Carpenter dalam film The Book of Henry. Kalau kamu pernah menonton filmnya, tokoh Henry mungkin bisa menjadi gambaran bagaimana Apri memandang kehidupan secara realistis.

Pelajaran 10: Ahli dalam Masalah Percintaan

Sekilas Apri memang terlihat seperti orang yang acuh dan masa bodoh terhadap masalah percintaan. Tapi sisi lain di balik Apri yang penuh intrik mengatakan sebaliknya.

Sepengalaman saya menjadi temannya, Apri sering sekali mendapat kode-kode dari banyak perempuan di sekolah. Banyak sekali perempuan yang tertarik dengannya. Bahkan yang sampai tergila-gila juga ada.

Tapi Apri selalu menanggapinya dengan respon yang sangat flat seolah-olah tidak peduli dan tidak mengerti apa-apa soal cinta dan perasaan. Apri selalu menunjukkan ekspresi ketidaktertarikannya terhadap lawan jenis. Ini adalah mode Apri yang bukan sebenarnya. Ia sedang menjadi Apri versi lain dalam menanggapi masalah cinta di lingkungan sekolah.

Dan pada kesempatan kali ini saya akan membongkar sisi lain Apri dalam konteks cinta berdasarkan fakta dan data yang sudah saya gali dari sumbernya langsung.

Dalam sebuah kesempatan saya sempat melakukan percakapan via media online dengan Apri. Pembahasan kita pada waktu itu tentang cinta dan perasaan, karena kebetulan saya sangat penasaran dan ingin tahu bagaimana pandangan Apri tentang perasaan dan cinta. Jadi saya yang awalnya membuka percakapan mengenai topik itu dengannya.

Saya tidak akan menunjukkan isi pesannya di sini karena bisa jadi bagi dia sifatnya privasi. Tapi yang pasti dari pandangannya mengenai cinta dan perasaan sangatlah luas, mendalam, dan lain dari yang lain.

Kebanyakan orang mengetahui dan memahami cinta dari film-film atau bacaan-bacaan bergenre romance. Sehingga baginya cinta yang ideal itu ya seperti yang ada di film-film. Padahal tidak selalu seperti itu.

Dalam postingan sebelumnya juga saya telah menyinggung sedikit perihal cinta, menurut saya cinta itu memang sifatnya sangatlah luas. Sangat sulit untuk mendeskripsikannya karena cinta menyangkut emosi dan perasaan manusia.

Kalau kamu memiliki kesempatan untuk berkonsultasi kepada Apri mengenai cinta, kamu akan mendapatkan saran dan jawaban yang berbeda dengan pandangan umum, benar-benar lain dari yang lain. Sejenak kamu mungkin tidak percaya dan tidak menganggap itu benar, tapi kalau kamu renungkan dan pikirkan kembali, kamu akan beranggapan bahwa itu ada benarnya juga.

Di kelas, Apri juga sering berbagi pandangannya mengenai cinta kepada teman-teman cowonya, termasuk saya. Bisa dikatakan pula Apri ini gurunya cinta kedua setelah Oo (Teman sekelas saya, nama aslinya Taufik).

Oh, ya. Saya juga ingin membantah jika ada orang yang beranggapan kalau Apri adalah orang yang tidak tertarik dengan lawan jenis.

Ia sempat bercerita kepada saya bahwa dia pernah mengalami apa yang disebut “Cinta pada Pandangan Pertama”. Dan saat itu perasaannya tidak dapat dideskripsikan kecuali dengan satu kata “Bahagia”. Ini menjadi indikasi bahwa Apri adalah laki-laki yang normal, yang memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis.

Namun, sayangnya cinta pada pandangan pertamanya itu harus berakhir dengan menyedihkan. Kasih tak sampai.

Setelah itu perasaan terhadap cinta pertamanya menjadi biasa saja, karena tertutup oleh perasaan-perasaan cinta yang baru, menutupi perasaan lama. Namun untuk perasaan cintanya yang baru ini, ia tidak mengutarakannya kepada siapa pun, bahkan kepada objek cintanya sekalipun. Ia memilih memendam perasaannya sendiri. Saya tidak tahu pasti mengapa alasannya.

Pelajaran 11: Suka Cepat Lapar, karena Kebanyakan Mikir

Ada lagi yang unik dari Apri. Suka cepat lapar dan porsi makannya banyak. Ya, memang terlihat wajar si, karena ia memiliki tubuh yang ideal dan berisi, jadi asupannya pun tidak sedikit.

Tapi dalam pandangan saya, penyebab ia cepat lapar bukan karena asupannya yang kurang banyak, tetapi karena ia kebanyakan mikir. Jangan salah, aktivitas berpikir itu merupakan aktivitas yang menguras banyak energi, loh.

Secara fisik, ia memang lebih banyak diam. Tapi seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, pikirannya sangat ramai dan tidak pernah berhenti berpikir, apa pun. Hal itu menjadikannya mudah lapar.

Setiap kali jam istirahat, ia biasa menghabiskan 2 porsi nasi dan beberapa makanan penutup. Dan ada lagi yang menarik bagi saya, ia tidak suka minum-minuman yang manis, ia lebih suka minum air putih. Ia memang sudah terbiasa menerapkan pola hidup sehat. Ini menjadi pelajaran yang harus kita teladani dari pola hidup sehat Apri. Ingat, Kawan! Sehat itu mahal.

Pelajaran 12: Pengguna Otak Kanan yang Cerdas, Kreatif, Inovatif, dan Imajinatif

Faktanya Apri memang tidak pintar-pintar amat. Biasa saja. Nilai-nilai ujiannya pun biasa saja tidak ada yang sempurna. Apalagi kalau soal eksak, jauh sekali dari kata unggul. Kalau sudah ketemu angka dan rumus-rumus, kerapkali ia merasa sangat kesulitan dalam memecahkannya. Namun saya sendiri tetaplah tidak lebih baik dari dia kalau perihal eksak. Hehehe.

Walaupun tidak terlalu pintar, tapi ia termasuk ke dalam kategori orang tercerdas yang pernah saya temui. Seorang pengguna otak kanan yang cerdas, kreatif, inovatif, dan imajinatif.

Kamu pasti terkejut ketika sosok yang satu ini mengkolaborasikan kecerdasan otak kanannya dengan tantangan yang menuntut kecerdasan otak kiri.

Sempat pada sebuah pelajaran fisika di kelas. Ada sebuah tugas yang mengharuskan murid membuat produk fisika berkenaan dengan materi yang tengah dipelajari, saya lupa materinya tentang apa. Wkwkwk.

Walaupun Apri tidak ahli dalam bidang ini, tapi adanya tugas ini membuat dia berpikir untuk mengkolaborasikan kecerdasan otak kanannya itu. Sehingga dengan kreativitasnya yang tinggi, akhirnya ia berhasil membuat produk fisika terbaik di antara kawan-kawan yang lainnya. Dan dengan cara itulah ia mampu mendongkrak nilai fisikanya. Keren sekali.

Ia juga termasuk orang yang tertarik akan dunia seni dan musik. Namun, karena kerendahan hatinya ia jarang sekali menunjukkan bakat dan keahliannya itu di hadapan teman-temannya.

Pelajaran 13: Pantang Menyerah

Meskipun peruntungannya bukan di ilmu eksakta, Apri tidak pasrah begitu saja. Ia berusaha keras belajar secara mandiri pelajaran-pelajaran eksak seperti matematika, fisika, dan kimia.

Yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, saat pelajaran eksak, ia selalu membawa lemabaran-lembaran yang dipenuhi oleh angka-angka dan rumus yang telah ia pelajari sendiri di rumah. Dari hal itu saya menilai bahwa ia memang tidak mudah menyerah terhadap keadaan.

Sangat berbeda sekali dengan saya yang pasrah begitu saja pada keadaan dan enggan untuk belajar lebih dalam, atau minimalnya menyeimbangkan pelajaran eksak yang tertinggal. Sayangnya untuk masalah ini saya tidak bisa belajar dari sosok Apri. Karena tekad dan keinginan yang ada di dalam diri Apri lebih besar dibandingkan dengan saya.

Dalam mengerjakan latihan-latihan soal pun ia selalu berusaha keras mengerjakannya seorang diri, di saat yang lain lebih memilih melihat jawaban temannya. Apri rela mengumpulkan latihan soal itu belakangan atau paling akhir, hanya demi agar dia mampu memahami soal itu dan mampu memecahkannya sendiri. Kegigihan luar biasa yang patut kita tiru.

Meskipun nilai-nilai ujian mata pelajaran eksak tidak kunjung membaik bagi Apri. Tapi ia tidak menyerah dengan mudah, justru aktivitas belajar dan tingkat kekritisannya terhadap kesulitan-kesulitan yang ia hadapi dalam pelajaran eksak semakin meningkat. Ini membuat saya merasa tertinggal jauh di belakang Apri yang sudah melangkah lebih jauh di depan.

Saya pernah berkesempatan sekelompok dengan dia dalam mata pelajaran kimia. Pada saat presentasi saya benar-benar bingung karena saya tidak terlalu mengerti materi tersebut. Pada saat itu satu kelompok hanya terdiri dua orang, yaitu saya dan Apri.

Dengan pasrah saya menyerahkan penyampaian materi lebih lanjut kepada Apri, dan saya sangat terkejut ketika Apri mampu menjelaskan materi itu dengan baik, dengan rinci, dengan detail yang jelas, dan yang pasti ilmu yang ia presentasikan bisa diterima dengan baik oleh guru dan kawan-kawannya di kelas. Pada saat itu saya merasa sangat berterima kasih pada Apri, karena nilai saya tertolong oleh presentasinya. Karena kegigihannya memahami materi kimia yang setahu saya itu bukan Apri banget, tapi kenyataannya ia mampu membawakan materi itu dengan baik.

Pelajaran 14: Tampan, Atletis, Idealis, tapi Tidak Sombong

Siapa pun yang mengenalnya pasti akan kagum pada keelokan fisiknya. Tubuhnya yang atletis, wajahnya yang tampan walaupun sedikit berjerawat, terlihat menawan ketika memakai kacamata, potongan rambut yang membuatnya terlihat mengesankan, cara berpakaiannya yang rapih, berkulit putih macam susu, dan banyak lagi.

Dari semua kelebihan fisik yang dimilikinya ini tidak membuatnya sombong melainkan malah membuatnya semakin merendahkan dirinya sendiri. Seharusnya tidak berlaku sombong bukan berarti merendahkan dirinya sendiri. Tapi entah mengapa Apri memilih untuk bersikap seperti itu. Saya juga tidak tahu apakah ia benar-benar merendah atau ia tidak menyadari kelebihan yang dimilikinya sendiri.

Karena memang penilaian datangnya dari orang lain, bukan dari diri sendiri.

Keelokan fisiknya itu membuat banyak perempuan menyimpan harap padanya, tapi sangat disayangkan juga ia tidak terlalu memikirkan itu. Tak heran memang karena Apri ini sangat pantas menjadi cowo idaman setiap wanita.

Pada awal melihatnya di kelas 10 Aliyah (setingkat SMA), ia memang terlihat culun dengan potongan rambut model cepak. Tapi dari waktu ke waktu, aura ketampanannya mulai muncul dan benar saja di kelas 12 bahkan hingga lulus ia terlihat semakin tampan.

Saya tegaskan! Meskipun saya mengatakan bahwa Apri tampan, bukan berarti saya menaruh harap padanya, ya. Saya laki-laki yang normal!

Pelajaran 15: Merendah untuk Meroket

Kebiasaan Apri yang sangat terkenal dan menjadi virus bagi kawan-kawannya yang lain adalah kebiasaan merendahnya yang sudah sangat akut.

Kebanyakan orang akan merasa senang ketika mendapatkan pujian atau penilaian positif dari orang lain. Sangat berbeda dengan Apri yang malah akan merendahkan dirinya, menghinakan dirinya saat mendapatkan pujian atau penilaian positif dari orang lain.

Ada beberapa kemungkinan mengapa ia bersikap seperti itu. Bisa jadi ia tidak percaya dengan dirinya sendiri, tidak menyadari kelebihannya sendiri, tidak ingin terlihat sombong, atau kemungkinan terbesar berdasarkan hipotesis saya adalah ia sengaja merendah untuk meroket.

Sebagaimana yang saya tahu, Apri itu adalah sosok yang misterius dan penuh intrik. Mungkin saja ia sengaja menanam pemahaman terhadap orang lain agar orang lain memandangnya rendah dan hina. Tapi di sisi lain Apri mungkin saja sedang merencanakan strategi untuk meroketkan dirinya sendiri. Dan membuat teman-teman yang telah merendahkannya dibuai ketidakpercayaan. Itu adalah cara sukses yang sangat elegan.

Pelajaran 16: Penuh Strategi, Intrik, dan Siasat dalam Hidupnya

Setiap gerak-geriknya, setiap langkah yang ia ambil, setiap keputusan yang ia ambil, dan apa pun yang akan ia lakukan pastinya melibatkan perhitungan dan strategi yang matang.

Alasan mendasar mengapa dia tidak pernah menjadi dirinya sendiri di hadapan orang lain adalah bagian dari strategi hidupnya untuk menutupi kemungkinan orang lain mengetahui kehidupan dan tujuan hidupnya yang sebenarnya.

Karena apa yang saya pelajari dari orang-orang hebat, kebanyakan dari mereka merahasiakan mimpi-mimpinya hanya untuk dirinya sendiri, dan memulai pergerakan untuk mencapai mimpinya dalam keheningan tanpa sepengetahuan orang lain. Ia akan muncul di hadapan orang-orang ketika impiannya yang ia jaga dengan protokol super ketat itu telah tercapai. Sehingga banyak membuat orang terbelalak saat mengetahuinya.

Mungkin itu bagian dari strategi yang diterapkan oleh Apri dalam kehidupannya. Ditambah Apri ini sosok introvert yang banyak berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Sangat wajar jika ia banyak menyimpan strategi dan intrik-intrik dalam kepalanya untuk mengatur langkah dan kehidupannya.

Pelajaran 17: Guru dan Inspirasi bagi Banyak Orang, termasuk Saya Sendiri

Kalau boleh berterus terang, saat saya menulis poin terakhir ini, mata saya sudah mulai sayu, pikiran sudah tidak fokus, dan jari-jemari sudah keriting lemas. Tapi poin ini perlu sekali saya tulis untuk menegaskan kepada kamu semua kalau Apri adalah patron yang sangat hebat.

Sosok Apri adalah guru dan inspirasi terbesar bagi banyak orang, terutama bagi saya pribadi. Dia banyak menjadi cikal bakal terbentuknya pemikiran-pemikiran baru yang menjadi terobosan positif bagi banyak orang.

Ungkapan-ungkapannya yang paradoks membuat banyak mata dan pandangan menjadi terbuka. Seolah membangunkan seseorang dari mimpi panjangnya. Bangun dan melihat kenyataan yang sesungguhnya di depan matanya. Menghalau berbagai kegetiran dengan keyakinan dan idealisme yang kita pegang kuat-kuat.

Apri mengajarkan banyak hal. Baik secara tersurat maupun tersirat. Semua orang pastinya sangat menantikan dan merindukan kehadirannya yang menyejukkan dan mengundang banyak tawa kebahagiaan.

Ia benar-benar berjasa dalam hidup saya. Dengan ini saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada pria misterius bermana Apri Mauladi.

Sebenarnya masih banyak hal tentang Apri yang belum terungkap dalam tulisan ini. Saya hanya menuliskan bagian kecil dari banyaknya sisi lain Apri yang bisa kita ambil pelajaran positif. Seharusnya semua tentang Apri ditulis dalam sebuah buku biografi, agar lebih banyak lagi orang yang bisa belajar darinya. Saya berharap suatu saat nanti akan ada orang yang menuliskan biografi dan perjalanan hidup seorang Apri dalam sebuah buku.

Husna Hisaba

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Tinggalkan Balasan

*