Disiplin Ilmu yang Dapat Memperkukuh Komponen Keimanan

Husnahisaba.com – Iman merupakan hal mendasar yang harus dimiliki oleh mereka yang memercayai adanya Tuhan. Iman merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh mereka yang mengakui keberadaan Tuhan sebagai Pencipta. Iman memiliki peranan yang sangat penting dalam pengontrol kehidupan manusia. Karena tanpa adanya iman seorang akan sangat sukar menentukan hakikat kehidupan dan inti dari perjalanan hidupnya di dunia. Iman layaknya pengontrol dan pemberi arah ke mana kita akan menuju dan kemana kita seharusnya menuju.

Karena begitu tingginya kedudukan iman bagi seorang muslim, maka sudah seharusnya kita memelihara dan menjaganya agar iman senantiasa dalam kondisi prima. Walaupun sebagai manusia biasa kadar iman seseorang bisa naik dan bisa juga turun, tapi mengusahakan yang terbaik adalah suatu kewajiban yang harus dijalankan dengan semaksimal mungkin agar tidak ada keraguan sedikitpun terhadap apa yang kita imani.

Melihat dari pengertiannya, iman secara bahasa berarti percaya. Sedangkan secara istilah, iman berarti meyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

Jika diuraikan, meyakini dengan hati berarti sebagai seorang mu’min kita meyakini bahwa suatu ajaran yang datang dari langit, suatu ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW sebagai perantara adalah sebuah kebenaran; mengikrarkan dengan lisan berarti mengucapkan dua kalimat syahadat “Asyhadu an laa ilaha illallahu wa asyhaduanna Muhammadan Rasullullah” (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah); sedangkan mengamalkan dengan perbuatan merupakan bentuk manifestasi dari seorang mu’min berupa perbuatan-perbuatan yang mencerminkan keimanannya seperti melaksanakan ibadah dan ketentuannya.

Adapun hal-hal yang wajib kita imani yaitu iman kepada Allah SWT., iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah., iman kepada Nabi dan Rasul, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada Qadha dan Qadar.

Berangkat dari definisi iman itu sendiri. Kita dapat menghubungkan tiga komponen penting iman ke dalam beberapa disiplin ilmu yang relevan sebagai cara untuk memperkukuh dan meningkatkan kualitas keimanan seseorang.

Untuk menjadikan hati seseorang benar-benar kukuh dan yakin untuk membenarkan apa yang diimani, hal itu tentu ada ilmunya. Para ulama terdahulu mengajarkan ilmu tasawuf. Yakni upaya untuk melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia. Hal itu dilakukan guna tercermin akhlak yang mulia dan senantiasa pelakunya dekat dengan Allah SWT. Dengan ilmu ini, diharapkan iman seorang mu’min mampu meresap dalam hati yang terdalam sehingga dapat memperkukuh keimanan.

Komponen iman selanjutnya adalah mengikrarkan dengan lisan yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat. Untuk menjadikan ucapan yang keluar dari mulut itu benar-benar penuh keyakinan dari dasar hati, tidak sembarang berucap, maka diperlukan juga ilmunya untuk memperteguh apa yang diucapkan. Disiplin ilmu yang tepat yaitu ilmu tauhid atau ilmu tentang ketuhanan. Pada gilirannya dengan perkembangan situasi dan kondisi sosial, ilmu tauhid telah berkembang menjadi ilmu kalam. Ilmu kalam yang pada dasarnya membahas tentang dasar-dasar tentang Tuhan, tentu akan sangat berkaitan dengan keimanan. Keimanan artinya adalah percaya atau meyakini. Seseorang tidak akan dapat mempercayai sesuatu atau meyakini sesuatu jika tanpa ada landasan ilmu pengetahuan dan dasar realitas yang sangat kuat.

Sementara itu, ilmu yang dapat memperkukuh amalan-amalan iman, sebuah perbuatan yang mencerminkan keimanan, adalah ilmu fiqh. Ilmu fiqh menjelaskan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan amalan-amalan seorang yang beriman agar keimanannya semakin kokoh. Serangkaian ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan berhaji ke Baitullah, semuanya diatur di dalam ilmu fiqh.

Ketiga disiplin ilmu tersebut harus berjalan secara seimbang, karena iman terdiri dari tiga komponen yang saling melengkapi satu dengan lainnya, saling memberi kelebihan dan saling menutupi kekurangan satu sama lainnya. Itulah mengapa kita tidak bisa menafikan salah satunya.

Ketika hanya disiplin ilmu fiqh saja yang dipelajari dengan menafikan dua disiplin ilmu lainnya, maka Islam akan sangat sulit mengalami kemajuan ilmiah.

Begitupun ketika hanya ilmu tasawuf saja yang berkembang dan ilmu lainnya dinafikan. Maka umat Islam akan mengalami kejumudan, sehingga terjadilah keterpurukan ilmiah. Islam akan mengalami keterbelakangan. Ibadah-ibadah ritual yang menjadi kekuatan Islam pun akan senantiasa ditinggalkan.

Sebagai umat Islam yang dewasa, sudah seharusnya kita mampu menempatkan ketiga komponen itu sesuai posisinya masing-masing tanpa harus ada yang dinafikan. Hal itu bertujuan guna menjadikan kualitas iman seseorang meningkat dan dapat menjadikan umat Islam mengalami kemajuan secara seimbang dalam berbagai aspek.

Husna Hisaba

Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

1 Comment

Tinggalkan Balasan

*