Selasa, 25 Agustus 2020

Tuhan Mau Kita Berbeda


Bumi tempat kita berpijak dihuni oleh banyaknya manusia dengan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Segala perbedaan sikap, sifat, tabiat, kepribadian, bentuk fisik,  dan lain sebagainya sangat biasa kita temui dalam setiap sisi kehidupan.

Jangan jauh-jauh, perhatikan saja diri sendiri yang merupakan salah satu produk keberagaman yang diciptakan Tuhan. Apakah kamu diciptakan sama persis baik bentuk fisik, maupun tabiatnya dengan teman dekatmu, atau dengan sauadaramu, atau dengan siapa pun? Jelas berbeda. Bahkan orang yang terlahir sebagai saudara kembar sekalipun tidak sepenuhnya sama persis, pasti ada perbedaannya.

Dari keberagaman latar belakang hidup manusia, perbedaan tabiat antara satu dengan yang lainnya, bisa kita simpulkan bahwa boleh jadi setiap manusia memiliki prinsip dan cara pandang yang berbeda-beda pula satu sama lain. Sehingga menjadi hal yang wajar jika banyak terjadi perseteruan dan perselisihan antarsesama manusia yang dilatarbelakangi oleh perbedaan.

Dalam kasus ini saya tidak akan menulis peroblema dan solusi dalam skala makro, namun lebih pada sesuatu yang bersifat personal. Lebih pada bagaimana kita sebagai individu menyikapi hal ini. Atau bisa juga bagaimana cara saya pribadi menyikapi hal ini, karena tulisan ini ditulis berdasarkan perspektif pribadi penulis.

Apakah kamu pernah menjadi salah satu korban dari perbedaan yang ada? Pernah menjadi kobran bullying karena berbeda dari orang lain? Pernah mendapat celaan dan hinaan karena berbeda? Pernah dikucilkan karena berbeda?  Atau jangan-jangan kamu termasuk pelaku atau subjek terhadap korban perbedaan?

Anggap saja kita pernah menjadi korban. Pertanyaan selanjutnya saat kamu berada di posisi sebagai korban, bagaimana kamu menyikapi keadaan tersebut? Apa respon yang kamu berikan terhadap stimuli yang didapat? Apakah kamu akan marah? Balik mencela dan menghina? Atau kamu termasuk orang yang lebih suka menanggapi segala sesuatunya dengan nilai-nilai positif?

Menurut hemat saya, semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Diri sendiri yang menentukan dan memutuskan bagaimana harus bersikap dan menyikapi suatu keadaan. Mau ke arah mana kamu membawa permasalahan ini, keputusannya ada di tanganmu.

Namun, kalau boleh saya usul, menagapa kita tidak buat segala sesuatunya indah, baik, dan menyenangkan. Coba bayangkan, bukankah akan lebih indah jika bisa hidup berdampingan penuh toleransi dan kasih sayang meskipun kita tahu bahwa kita berbeda.

Keadaan seperti itu dapat kita mulai dari diri sendiri. Kita tidak perlu fokus menghakimi dan menilai sikap orang lain, tapi lebih fokuskan perhatian pada diri sendiri, banyak hal-hal yang harus dibenahi di dalam diri sendiri sebelum beranjak pada orang lain. Daripada memilih menghakimi, menyakahkan, dan menghina orang lain dengan label-label yang dapat menyinggung hati dan perasaannya, mengapa tidak kita coba untuk saling menghargai pendapat dan pandangan satu sama lain.

Cobalah untuk membiasakan diri menghargai orang lain, menghargai setiap usaha orang lain walau sekecil apapun usaha mereka, menghargai setiap perbedaan yang ada, menghargai setiap masukan yang orang lain berikan kepada kita, menghargai kritik dan saran orang lain terhadap kita, menerima perlakuan baik dan buruk orang lain dengan ikhlas dan lapang. Sungguh itu sebuah kemuliaan jiwa.

Ya, semuanya dimulai dari bagaiama cara agar kita bisa bijaksana dalam bersikap menyikapi berbagai hal. Hal mendasar yang harus kita pahami adalah bahwa Tuhan sebenarnya mau kita berbeda. Tentunya perbedaan yang dapat mendatangkan rahmat bagi sesama. Sehingga dapat kita lihat bahwa ternyata perbedaan itu indah, sangat indah.

Hargai setiap apa yang datang kepada kita. Menerimanya dengan penuh kelapangan. Jadikan itu sebagai bahan untuk introspeksi diri, jadikan sebagai acuan untuk diri kita, sebagai tolak ukur untuk menjadikan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sepahit apapun yang keluar dari mulut orang lain.

Jangan cepat memutuskan untuk marah hanya karena ada yang mencela, menghina, atau berusaha menjatuhkan. Hal itu hanya akan memperburuk diri sendiri. Jadikan setiap keburukan yang orang lain lontarkan sebagai hiasan dalam hidup agar hidup lebih indah dan berwarna, semakin orang mencela, semakin indah keberhasilan yang didapat, Semakin lapang jiwa kita, semakin mulia diri kita. Untuk menjadi pribadi yang mulia, kita harus mampu menerima dengan ikhlas dan lapang setiap keburukan yang orang lain lakukan dan membalas setiap keburukan dengan kebaikan. Kesimpulannya, perbedaan bukan tidak mungkin akan menjadi sesuatu yang indah dan baik, bahkan memang seharusnya begitu, karena Tuhan menghendaki perbedaan sebagai rahmat bagi sesama. Perbedaan dengan segala macam pernak-perniknya haruslah mampu menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik, bijaksana, dan dewasa. Semuanya dimulai dari diri sendiri, dari bagaimana cara kita bersikap dan menyikapi.

0 komentar

Posting Komentar