Berawal dari curahan teman beberapa waktu yang lalu, tentang perasaan insecure yang sedang dihadapinya. Cemas, resah, keraguan, kekhawatiran, rasa takut, dan yang paling menarik adalah perasaan bahwa dirinya adalah pribadi yang paling bodoh sebodoh-bodohnya. “Pengen teriak!!!”

Saat itu saya tidak menanggapinya dengan serius, karena saya lihat waktu dan tempatnya kurang tepat untuk berbicara panjang lebar mengenai problema tersebut, dan yang paling penting, saya sangat tidak suka berbicara namun seolah-olah menggurui orang lain.

Maka lahirlah tulisan sederhana ini sebagai bentuk tanggapan yang mungkin gak banyak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya dapat membuka pikiran kita dan mengatur pola pikir kita terhadap masalah yang ada.

Saya akan menitikberatkan pada perasaan menjadi manusia paling bodoh, karena itu menarik. Tapi yang pasti, saya pribadi belum cukup banyak menimba pengalaman hidup, tidak seperti orangtua-orangtua kita atau orang-orang dewasa yang kita kenal. Tak ubahnya seperti curahan teman saya di atas, saya pribadi pun pernah (mungkin masih) mengalami hal-hal demikian. Sebagai seorang amatir, saya coba mengurai hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah dipraktikkan oleh orang-orang hebat nan berpengaruh dalam menghadapi masa-masa seperti ini.

Hal pertama yang ingin saya katakan adalah, bahwa suatu hal yang wajar jika kita menginjak masa-masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa mengalami perasaan-perasaan sebagaimana yang telah saya sebutkan di awal tulisan ini.

Dalam tahap-tahap perkembangan psikososial Erikson, kita memasuki fase psikososial tahap 5 (identitas vs kekacauan identitas). Di dalam tahap ini lingkup lingkungan semakin luas, tidak hanya di lingkungan keluarga atau sekolah, namun juga di masyarakat. Pencarian jati diri mulai berlangsung dalam tahap ini. Orang yang berada di tahap ini akan dituntut secara alamiah untuk menemukan identitas dirinya. Faktor internal maupun eksternal akan sangat berpengaruh pada proses pencarian dan penemuan jati diri seseorang. Terutama lingkungan eksternal yang memiliki andil besar dalam proses pencarian jati diri. Apabila seorang remaja dalam mencari jati dirinya bergaul dengan lingkungan yang baik maka akan tercipta identitas yang baik pula. Namun sebaliknya, jika remaja bergaul dalam lingkungan yang kurang baik maka akan timbul kekacauan identitas pada diri remaja tersebut.

Oke, setelah kita menyadari bahwa itu merupakan suatu hal yang wajar. Tinggal bagaimana kita mengatur mindset terhadap problema tersebut. Tujuannya agar kita dapat mengambil nilai positif, nilai kebaikan, nilai manfaat, hikmah, dan pelajaran dari apa yang dialami. Buat masalah lebih bermakna, jadikan sebagai bahan untuk menjadikan diri sendiri berkembang ke arah yang lebih baik.

Entah kamu menyadari atau tidak, keadaan-keadaan seperti ini menuntut kita untuk merenung, berkontemplasi, dan berpikir lebih sering serta lebih mendalam dari keadaan biasanya. Secara tidak langsung proses seperti ini akan menjadikan seseorang lebih dewasa dan matang. Bukankah itu suatu hal yang menguntungkan bagi perkembangan diri sendiri?

Kembali pada perasaan menjadi “bodoh”. Sebenarnya hal itu tidaklah terlalu buruk. Karena bodoh yang kamu maksud, bodoh yang seperti apa dulu? Kita mungkin mempunyai konsepsi bodoh yang berbeda satu sama lain.

Bagi saya merasa bodoh itu perlu, agar kita tidak cepat merasa puas dan selalu terpacu untuk belajar lebih, untuk mengetahui lebih, dan untuk melihat lebih. Itulah mengapa ada sebuah adagium yang mengatakan, “Semakin Anda pintar, maka Anda akan merasa semakin bodoh.” Artinya ketika kita terus belajar tanpa henti, kita bisa mawas diri bahwa ternyata ilmu itu luas sekali, pengetahuan itu luas sekali, ternyata banyak hal-hal yang belum kita ketahui selama ini.

Karena hanya dengan merasa bodohlah kita akan terpacu untuk terus belajar dan mencari tahu. Begini… menurut hemat saya, orang bodoh yang sesungguhnya adalah orang yang memilih untuk berhenti belajar dan tetap merasa nyaman di dalam kebodohannya.

Come on… manusia itu sangatlah istimewa, ia dianugerahi akal oleh Tuhan dengan banyak potensi dan keunggulan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Manusia memiliki potensi untuk “mengetahui”, manusia memiliki potensi untuk menerima ilmu, manusia memiliki kemampuan untuk mempelajari hal-hal baru, tapi hal itu berlaku hanya bagi mereka yang mau terus belajar dan menerima ilmu. Walaupun harus kita akui bahwa derajat kemampuan yang ada pada tiap-tiap individu tidaklah sama. Hal itu bukanlah soal selama kita mau untuk terus belajar dan memaksimalkan potensi yang ada pada diri kita masing-masing.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *