Senin, 20 April 2020

Tahun-Tahun Kegilaan


Maju mundur saya menuliskan tulisan yang satu ini. Dengan berat hati saya terpaksa harus menuliskan sekelumit perjalanan hidup dalam kurun waktu tiga tahun terakhir yang penuh dengan monokrom mengerikan.

Apalagi kalau bukan tentang kehancuran dan kekacauan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai tahun-tahun kegilaan karena pembawaan diri yang benar-benar terkesan gila menurut saya.

Saya yakin akan ada orang yang tertawa terbahak-bahak, merasa puas menertawakan tulisan ini, lebih tepatnya menertawakan nasib penulisnya yang menyedihkan. Dan itu menjadi salah satu harapan saya.

Besar harapan saya menuntaskan permasalahan dengan orang-orang yang memiliki dendam kesumat terhadap saya dan menuntaskan kesalahan-kesalahan saya yang tidak bisa mereka maafkan.

Tulisan ini akan terkesan sangat bucin dalam beberapa sudut pandang. Bagi kamu yang alergi dengan itu, sebaiknya berhenti membaca postingan ini, tidak usah dilanjutkan, silakan baca tulisan saya yang lain.

Sebuah kisah tentang beberapa episode cinta yang hilang, menikam, menghanyutkan, dan benar-benar gila dalam tahun-tahun kegilaan.

Tentang sikap kekanak-kanakan, bodoh, ceroboh, egois, keras kepala, pikir pendek, dan angkuh. Padahal saya selalu memiliki kesempatan untuk berpikir banyak hal. Tapi hal ihwal cinta, perasaan, dan wanita. Oh, sungguh tak terbayangkan, gelap gulita.

Kelabilan yang tak bisa ditutup-tutupi oleh remaja peralihan dari pertengahan menuju akhir. Kegagalan dalam mengekspresikan perasaan. Terlalu ekspresif sehingga menunjukkan kesan krisis moral yang sangat dalam.

“Cinta merupakan sesuatu yang emosional, dan apa pun yang emosional bertentangan dengan penjelasan sejati yang aku letakkan paling tinggi di atas semuanya.” –Sherlock Holmes

Dalam tiga sampai empat tahun masa kegilaan, ada dua perempuan yang cukup mengalihkan sebagian dari kehidupan saya, dua perempuan yang saya hancurkan sekaligus dua perempuan yang menghancurkan saya.

Kehancuran yang saya maksud yaitu terjadinya instabilitas atau disequiblirium dalam jalannya hati dan pikiran. Sederhana tapi sangat meresahkan.

Saya tidak menyalahkannya, saya hanya menyalahkan diri sendiri, baik dari posisi saya sebagai subjek maupun objek. Jelas-jelas isi pikiran saya yang terlalu retorik memandangnya.

Setidaknya saya berhasil membuktikan nasihat dari salah seorang guru yang sempat saya remehkan nasihatnya. Dalam sebuah kesempatan berbincang-bincang mengenai banyak hal, diakhir pembicaraan beliau memberi nasihat kepada saya, kurang lebih begini perkataannya,

“Musuh terbesarmu sebenarnya adalah perempuan.”

Perkataan itu mungkin tidak akan berlaku bagi kamu, karena beliau mengutarakan hal itu kepada saya setelah saya berdebat banyak hal dengannya tentang perempuan. Yang artinya jelas itu ditamparkan kepada saya seorang yang ada dihadapannya pada saat itu.

Selain itu, saat ini saya merasa ditampar oleh berbagai rumor yang dikatakan teman-teman saya dulu, tentang kehancuran yang akan didapat saat berani memulai perkara (menyulut api) dengan perempuan.

Sekarang saya belajar banyak hal, terutama tentang pentingnya menghargai dan mengormati perempuan –terutama perasaannya. Saya hanya ingin menyampaikan dengan segala kerendahan hati, saya benar-benar meminta maaf karena telah mengganggu dan merusak kehidupan kalian. Ucapan terima kasih yang tak terperi saya sampaikan kepada dua perempuan yang sangat berjasa dalam hidup saya, terutama dalam memberi persepsi-persepsi baru mengenai banyak hal dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun terakhir saat tulisan ini ditulis pada awal April 2020.  Bagi saya mereka tetap teman dan sahabat baik dalam hidup.

Semoga tulisan ini bisa memutus rantai kebencian dan dendam yang mungkin terpendam di antara kita sebagai sesama makhluk Tuhan.

0 komentar

Posting Komentar