Dari hari ke hari, banyak sekali fenomena-fenomena dalam beragama dengan berbagai macam warna dan coraknya dapat kita temui di dunia. Termasuk Islam itu sendiri yang kabarnya akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya 1 yang masuk surga (beberapa pendapat mengatakan hadits tersebut hasan dan tidak sampai pada derajat shahih), meskipun sebenanrya saya lebih setuju umat Islam terbagi menjadi 73 golongan dan hanya 1 yang masuk neraka. 1 golongan itu adalah mereka yang tidak memercayai adanya Allah SWT. sebagai Tuhan semesta alam. Jika mempertimbangkan berbagai interpretasinya akan banyak terbentuk kemungkinan-kemungkinan yang erat kaitannya dengan kabar-kabar yang lain. Namun saya tidak akan membahas lebih jauh tentang itu.

Yang ingin saya utarakan dalam tulisan ini adalah sebuah opini tentang apa yang saya lihat dan saya pahami saat ini terhadap fenomena beragama yang terjadi pada kalangan umat Islam di Indonesia, terutama di kalangan para muda-mudi yang boleh dikatakan satu generasi dengan saya sendiri.

Kembali saya katakan bahwa Ini hanya opini saya pribadi dan juga argumentasi-argumentasi yang saya dapat dari berbagai pemahaman dan diskursus yang saya lakukan dengan teman serta senior yang kompeten dalam bidang ini.

Mungkin banyak di antara kita yang menemukan fenomena dimana orang-orang di usia muda seperti saya yang baru mengenal dan memahami wajah Islam namun tidak mampu mengontrol diri dan ambisinya untuk belajar agama secara luas dan komprehensif, ia hanya menerima mentah-mentah materi keagamaan dari sumber-sumber yang belum sepenuhnya valid tanpa mau mencari tahu dan mempelajari lebih dalam tentangnya, sehingga banyak bermunculan orang-orang yang dikatakan “mabuk agama” dan gagal paham dalam memahami Islam.

Bukan berarti saya adalah orang yang paling paham tentang agama Islam, bukan. Saya pribadi juga masih terus belajar dan mencari tahu tentang Islam dan keberislaman yang sebenarnya dan sebaik-baiknya.

Banyak sekali doktrin-doktrin keislaman yang justru malah mempersempit pemikiran orang-orang Islam di dalamnya. Dan doktrin tersebut terbukti efektif mengenai sasaran pemikiran orang-orang awam yang belum sepenuhnya mengerti tentang Islam yang sesungguhnya. Sebuah doktrin yang mampu menyentuh logika dan emosi seseorang sehingga membuat mereka berpikir bahwa apa yang disampaikannya sepenuhnya benar (padahal belum tentu) tanpa ada daya kritis sebagai pengontrol dan penyeimbang.

Semakin ia disuguhi doktrin-doktrin satu arah (one sided issue) dengan tendensi metode penyampaian Fear Appeal (menimbulkan rasa ketakutan kepada khalayak) secara terus-menerus, maka semakin terbentuk pola pikir pragmatis di dalam dirinya, mulailah tertutup ruang hati dan pemikiran dari perspektif atau sudut pandang lain yang berbeda, dan mengklaim apa yang selama ini diterimanya adalah ajaran yang paling benar dan yang lain salah. Dari sinilah muncul bibit-bibit bigot dengan kepongahan dan keangkuhan yang berimplikasi pada tertutupnya pikiran dalam menerima serta mendengarkan pandangan yang berbeda dari dirinya.

Tidak aneh jika sekarang banyak orang-orang beragama Islam yang takut terhadap agamanya sendiri (Islamophobia). Karena wajah Islam oleh sebagian orang dengan pemikirannya yang sempit dibuat menyeramkan dan menakutkan,  padahal tidak demikian kenyataannya. Agama yang seharusnya menjadi solusi malah mejadi momok yang menakutkan ditengah masyarakat kita. Saya yakin ada sesuatu yang salah. Bukan agamanya, tapi manusianya.

Semakin rendahnya kesiapan mental seseorang untuk menerima kebenaran lain yang ada, semakin mempersempit ruang dialog, ruang pertukaran pikiran untuk mencari kebenaran dan untuk kemajuan umat Islam bersama. Umat Islam hanya akan diributkan oleh pertelingkahan yang pada akhirnya hanya stuck di situ-situ saja, tidak ada titik terang yang ditemukan karena tidak adanya keterbukaan satu sama lain.

Pola-pola seperti ini akan melahirkan muslim-muslim fundamentalis yang sempit dalam berpikir dan enggan untuk menerima kemungkinan-kemungkinan baru, terutama pemikiran-pemikiran Islam yang semakin berkembang dan dewasa.

Pada akhirnya jika melihat kenyataan yang seperti ini, maka kejumudan akan tetap membelenggu umat Islam. Umat Islam akan sukar mengalami kemajuan dan akan terus mengalami keterbelakangan dari berbagai aspek terutama dalam hal sofistifikasi berpikir.

Imbasnya tentu akan banyak melahirkan orang-orang intoleran di negeri ini, sebagaimana fenomena-feomena yang kita lihat dan rasakan secara nyata baik di media sosial maupun yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Tidak adanya keterbukaan wawasan, tidak adanya pertukaran pikiran, tidak ada lagi orang yang saling menghargai pendapat orang lain, semuanya hanya mementingkan egonya masing-masing disertai dengan kepongahan yang luar biasa.

Padahal jika seseorang dapat menerima informasi dari dua sisi (two sides issue), melihat dari sudut pandang atau perspektif berbeda yang sama-sama mengandung kebenaran, serta memiliki dasar ataupun argumen yang kuat, keterbukaan dan pertukaran pemikiran untuk kemajuan bersama bukan menjadi sesuatu yang mustahil untuk diraih.

Sayangnya hal itu akan sulit diraih, melihat kenyataan banyak orang-orang dengan pemikiran sempit yang sangat bigotri. Bukannya mendengarkan dengan baik terlebih dahulu argumen dari sisi lain, mencerna dan memahaminya dengan baik, menerima dengan keterbukaan hati dan pikiran, yang terjadi sekarang ini orang lebih memilih menutup telinga kemudian melontarkan olok-olok, cemooh, dan merendahkan sudut pandang keilmuan yang berbeda dengannya. Rata-rata hal ini terjadi di kalangan awam bukan di kalangan para ahli. Karena mungkin kedewasaan serta kematangan dalam berpikir belum sepenuhnya sampai.

Secara sederhana, banyak pengikut-pengikut ajaran keagamaan yang merasa paling benar dan merasa paling mengerti serta paham tentang apa yang dibawanya, tapi sebenarnya kosong makna dan kosong ilmu. Mereka memilih untuk berhenti belajar dan enggan menerima pemikiran-pemikiran dari sudut pandang keilmuan lain yang boleh jadi lebih dapat diterima oleh hati dan pikiran. Namun karena memang ruang hati dan pemikirannya sudah tertutup dan enggan untuk memberikan ruang, yah, mau bagaimana lagi? Salah satu cara untuk mengatasinya adalah usaha untuk terus belajar dan mencari tahu tentang cara beragama yang sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Intinya tidak pernah berhenti belajar dan merasa puas akan apa yang telah didapat. Perluas cakrawala pikiran dan pengetahuan, buka hati dan pikiran untuk menerima samudera ilmu pengetahuan. Hanya dengan upaya pencarian terus menerus tentang makna keberislaman yang hakiki dan keterbukaan hati akan kemungkinan-kemungkinan baru, maka kita dapat terselematkan dari pemikiran-pemikiran yang membelenggu. Seorang bukan hanya harus adil dalam berbuat, tetapi juga harus adil dalam pemikiran.

Kategori: Opini

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *