Semua hal yang terjadi di dalam kehidupan ini tidak terlepas dari hukum sebab-akibat. Secara sederhana, tidak ada yang namanya “kebetulan” jika kita memerhatikan segala sesuatunya dengan saksama. Bahwa filsafat dualisme yang membawahi hukum kausalitas kehidupan sangatlah realistis dan empiris.

Istilah hukum kausalitas memang beragam dan sangat bervariasi bergantung dari perspektif mana istilah itu diambil. Tapi pada dasarnya memiliki arti dan substansi yang sama.

Dalam beberapa kasus, terkadang pola kehidupan terlihat berjalan tanpa adanya keterlibatan hukum sebab-akibat di dalamnya. Tapi sebenanarnya menafikan hal tersebut adalah pilihan yang sangat jarang di ambil oleh pola pikir manusia yang menggerakkan akal pikirannya.

Menurut saya, bukan berarti tidak ada, hanya saja tersamarkan. Karena hukum kausalitas tidak semuanya bisa dipahami dengan kedangkalan berpikir otak manusia. Hukum tersebut ada yang memang mudah dipahami dan ada pula yang sulit untuk dipahami; ada yang sifatnya rasional, ada pula yang irrasional, ada yang tersurat ada pula yang tersirat. Tapi kembali lagi jika kita memperhatikannya dengan saksama, kita bisa menarik benang merah peristiwa apa pun pada hukum sebab-akibat.

Mungkin kita sempat berpikir bahwa permasalahan-permasalahan yang menimpa kita di dunia ini, lantaran karena dosa-dosa yang telah kita perbuat, karena kedurhakaan kita terhadap Allah SWT.

Ya, itu salah satu contoh bagaimana hukum sebab-akibat telah terprogram dalam pikiran dan hati manusia. Dan Al-Qur’an menjelaskan cara menyelesaikan permasalahan-permasalahan itu dengan perintah-perintah kepada manusia untuk melakukan suatu perbuatan (sebab) yang nantinya akan berakibat pada jalan keluar dan penyelesaian (akibat). Saya akan mencoba memberi contoh bagaimana hukum ini bekerja dalam perspektif spiritual.

Hai, Kawan! Tahukah kamu, perbuatan sederhana dengan akibat baik yang sangat besar?

Ya! Sedekah.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa dengan bersedekah, maka rezeki kita akan bertambah, segala macam kesulitan akan dipermudah, segala doa akan cepat terkabul, dan banyak kebaikan lainnya.

Contoh sederhana di atas adalah gambaran bagaimana hukum sebab-akibat itu berjalan melatarbelakangi berbagai macam peristiwa yang ada di kehidupan.

Dan Al-Qur’an dengan segala kehebatannya telah menawarkan berbagai cara dan solusi bagi manusia dalam menghadapi berbagai macam permasalahan-permasalahan hingga keinginan manusia itu sendiri. Semua itu diperuntukkan bagi manusia yang ingin keluar dari situasi-situasi sulit menuju kemudahan dengan jalan yang baik dan benar.

Dalam kasus ini setidaknya ada dua tipe manusia dalam menyelesaikan permasalahan ketika ditimpa kesulitan. Sebagian orang menyelesaikan berbagai persoalan dan masalah dengan sesuatu yang baik, dan sebagian lainnya menyelesaikan persoalan dan masalah dengan sesuatu yang buruk.

Percaya atau tidak, hukum sebab-akibat berlaku pada keduanya. Sesuatu yang baik untuk yang baik, dan sesuatu yang buruk untuk yang buruk. Kamu bisa membuktikannya dengan keyakinan hati dan realisasi dalam tindakan. Lihat saja bagaimana hasilnya…

Kembali pada contoh di awal. Sedekah merupakan cara yang baik, dan Al-Qur’an telah mengindikasikan bahwa dengan bersedekah rezeki aka bertambah serta berbagai kesulitan akan dipermudah.

Sekarang mari kita coba dengan sesuatu yang buruk. Kesombongan dan kikir ditambah tidak mengimani adanya balasan dari setiap apa yang diperbuatnya. Ya… itu antitesis yang tepat dalam kasus ini.

Kamu mungkin mengetahui kisah Qarun. Kehidupan Qarun pada awalnya sangat miskin hingga akhirnya ia meminta kepada Nabi Musa AS. untuk mendoakannya agar menjadi kaya. Akhirnya Nabi Musa AS. mendoakannya dan Allah SWT. mengabulkannya.

Sayangnya ketika sudah menjadi kaya, Qarun mempergunakan hartanya dalam kesesatan, kezaliman, dan permusuhan, sehingga membuatnya menjadi orang yang sombong. Qarun mabuk dan terlena dengan kekayaannya. Dengan sombongnya Qarun merasa bahwa apa yang dimilikinya saat ini berupa harta kekayaan yang melimpah adalah hasil kerja keras dan jerih payahnya tanpa campur tangan Tuhan.

Berdasarkan kisahnya yang tertuang dalam Surat Al-Qashas ayat 76-83, akibat dari kesombongan Qarun, Allah menurunkan adzab kepadanya berupa gempa bumi dan longsor yang dahsyat. Qarun tenggelam bersama seluruh harta kekayaannya ke dalam perut bumi. Tak ada sedikitpun harta yang tersisa, seluruhnya bahkan rata dengan tanah. Tidak ada satupun golongan yang mampu menyelamatkannya, baik keluarga, kerabat maupun temannya. Harta yang selama ini dibanggakannya justru menjadi malapetaka baginya dan tak sedikitpun mampu menolongnya.

Kesimpulannya ada pada pribadi masing-masing. Jalan mana yang ingin kita ambil dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Mau dengan cara atau jalan yang baik sehingga mendatangkan jalan keluar yang baik pula, atau dengan cara atau jalan yang buruk sehingga bukannya mendatangkan jalan keluar malah akan membinasakan diri sendiri.

Kategori: Opini

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *