Sabtu, 10 Oktober 2020

Apa yang Tidak Dapat Membunuhmu akan Menjadikanmu Lebih Kuat


Percaya atau tidak, setiap manusia memiliki ‘kepribadian lain’ yang berbeda dari kepribadian asli dalam hidupnya. Kepribadian ini sangat malu-malu, sukanya bersembunyi, dan nyaman berdiam diri di dalam pikiran kita. Namun, jika ‘kepribadian lain’ ini berhasil dikendalikan, difungsikan, dan digunakan dengan baik pada sebuah momentum yang tepat, jangan terkejut jika setiap manusia dapat bertransformasi menjadi super hero yang bisa melakukan dan mencapai apa pun yang ia inginkan.

Sayangnya membangunkan ‘kepribadian lain’ dari masa tidur panjangnya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan banyak orang yang sampai habis masa hidupnya pun tidak pernah bertemu ‘kepribadian lain’ yang unik dan penuh kekuatan ini dalam hidupnya. Sayang sekali.

Saya tidak mengatakan bahwa saya telah berhasil membangunkannya, sama sekali tidak –atau mungkin belum. Lebih tepatnya saya melihat fenomena ini terdapat pada orang-orang yang saya kenal dan orang-orang yang saya tahu perjalanan hidupnya. Semuanya sungguh sangat berkilauan di mata saya, bagai berlian merah delima yang terpancar oleh cahaya matahari.

Melihatnya saja sudah cukup membuat irama jantung saya berdegup kencang,  apalagi kalau sampai memiliki kekuatan pahlawan super seperti itu. Entahlah, saya tidak bisa membayangkannya.

Tapi yang pasti hal itu sangat membuat saya terkesan dan secara sadar ataupun tidak sadar memicu api semangat dalam diri saya menjadi semakin berkobar, semakin menyala-nyala, dan semakin panas tentunya (maksud Anda kompor? Atau apa?).

Ternyata, dari beberapa peristiwa atau pengalaman orang yang saya amati dan saya cerna pengalaman hidupnya, rata-rata ia mendapatkan momentum menghebatkan itu saat ia benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya. Yang mana pada titik itu ia akan dihadapkan pada sebuah pilihan berat, mengapa berat? Karena keputusannya akan sangat menentukan bagaimana kelanjutan atau keberlangsungan hidup seseorang.

Pilihannya adalah Jatuh dan pecah atau tetap berdiri gagah dan memecahkan rekor.

Dan saat seseorang memilih untuk tetap berdiri di tengah payahnya kehidupan yang tidak berpihak dengannya, saat itulah ‘kepribadian lain’ dalam hidup akan turut membantu seseorang bergerak maju dan merangkak naik, sedikit demi sedikit, tidak langsung banyak.

Saat seseorang berhasil menaklukkan berbagai kesulitan dalam hidup, berhasil untuk tetap berdiri tegak ketika bertubi-tubi masalah datang kepadanya, dan memilih untuk tidak menyerah ketika kegagalan demi kegagalan menghampirinya, percayalah, pada saat itu juga sebuah titik balik dalam hidup berupa kemenangan akan muncul ke permukaan.

Sialnya roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar, saat seseorang hari ini berada di atas, bisa saja esok harinya tersungkur jatuh ke bawah. Begitupun sebaliknya, saat seseorang hari ini berada di bawah, bisa saja esok harinya ia meroket naik ke atas.

Yang perlu saya dan kamu lakukan sebenarnya sederhana saja, jangan pernah berhenti bergerak di mana pun posisimu dan bagaimana pun kondisimu saat ini. Titik balik dalam kehidupan tidak hanya datang sekali, melainkan berkali-kali, kegigihan sangat diperlukan saat menghadapi kegagalan dan situasi sulit dalam hidup.

Semua hambatan, semua kegagalan, dan semua kepiluan membawa benih keuntungan yang setara atau bahkan lebih besar. - Napoleon Hill

Saya meyakini bahwa sebuah pencapaian luar biasa dalam hidup tidak bisa diraih tanpa sebuah pengorbanan yang luar biasa pula.

Sekarang saya akan mencoba menghubungkannya dengan konteks yang lebih sederhana dalam kehidupan keseharian.

Sebagai seorang mahasiswa, terus terang saja menghadapi bertubi-tubi tugas yang muncul layaknya peluru machine gun yang dimuntahkan secara membabi buta bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Sebaliknya… sangat melelahkan dan menyebalkan.

Bayangkan saja… tidur menjadi tidak tenang, makan menjadi tidak teratur, tidak ada waktu untuk bersantai atau berleha-leha, lebih parah lagi… apa pun yang kita lihat atau hendak kita sentuh mendadak berubah menjelma menjadi tumpukan tugas yang seolah memperingati saya untuk segera mengerjakannya. Gelisah hati saya.

Tapi di sisi lain, saya lihat di luar sana, ternyata saya memiliki seorang teman yang beban hidupnya lebih berat dari saya, tanggung jawabnya lebih besar dari saya, kondisi serta keadaannya lebih memprihatinkan dari saya, dan waktu luangnya lebih sedikit dari saya karena ia harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja menyambung hidup, namun ia tetap bersemangat dan sangat antusias menjalani kesehariannya yang berat itu.

Melihat kenyataan itu rasanya saya seperti dihantam palu gada raksasa, sesak dada, gemetar kaki dan tangan, dan hati saya macam tertikam seribu belati. Tidak tahu harus di taruh di mana muka saya, memalukan sekali rasanya kalau harus mengeluh, menyerah, dan selalu protes terhadap keadaan, padahal di luar sana banyak orang yang kondisinya jauh lebih sulit dari saya tapi tidak pernah mengeluh, tidak pernah menyerah, dan tidak pernah protes.

Justru sebaliknya, mereka akan terus bergerak maju, memelihara api semangat di dalam jiwa mereka setiap harinya, dan senantiasa menjaga senyum bahagia sebagai bentuk rasa syukur atas hidup. Selama hayat masih di kandung badan, tidak ada alasan untuk menyerah dan putus asa. Merekalah para pahlawan kehidupan.

Sebuah pelajaran berharga bagi saya yang sarat akan makna, bahwa dalam kehidupan dunia yang tidak sempurna ini, sebuah usaha dan pengorbanan layak untuk diperjuangkan.

Saya sangat berterima kasih karena saya banyak belajar dan menimba pengalaman berharga dari mereka. Mereka adalah orang-orang hebat dan orang-orang kuat yang sangat berdedikasi terhadap kehidupan yang merupakan sebuah anugerah Tuhan. Dan dari sana saya memahami sebuah kalimat penting bahwa apa yang tidak dapat membunuhmu akan menjadikanmu lebih kuat.

Selasa, 15 September 2020

Menjadi Bodoh yang Menyenangkan


Berawal dari curahan teman beberapa waktu yang lalu, tentang perasaan insecure yang sedang dihadapinya. Cemas, resah, keraguan, kekhawatiran, rasa takut, dan yang paling menarik adalah perasaan bahwa dirinya adalah pribadi yang paling bodoh sebodoh-bodohnya. “Pengen teriak!!!”

Saat itu saya tidak menanggapinya dengan serius, karena saya lihat waktu dan tempatnya kurang tepat untuk berbicara panjang lebar mengenai problema tersebut, dan yang paling penting, saya sangat tidak suka berbicara namun seolah-olah menggurui orang lain.

Maka lahirlah tulisan sederhana ini sebagai bentuk tanggapan yang mungkin gak banyak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya dapat membuka pikiran kita dan mengatur pola pikir kita terhadap masalah yang ada.

Saya akan menitikberatkan pada perasaan menjadi manusia paling bodoh, karena itu menarik. Tapi yang pasti, saya pribadi belum cukup banyak menimba pengalaman hidup, tidak seperti orangtua-orangtua kita atau orang-orang dewasa yang kita kenal. Tak ubahnya seperti curahan teman saya di atas, saya pribadi pun pernah (mungkin masih) mengalami hal-hal demikian. Sebagai seorang amatir, saya coba mengurai hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah dipraktikkan oleh orang-orang hebat nan berpengaruh dalam menghadapi masa-masa seperti ini.

Hal pertama yang ingin saya katakan adalah, bahwa suatu hal yang wajar jika kita menginjak masa-masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa mengalami perasaan-perasaan sebagaimana yang telah saya sebutkan di awal tulisan ini.

Dalam tahap-tahap perkembangan psikososial Erikson, kita memasuki fase psikososial tahap 5 (identitas vs kekacauan identitas). Di dalam tahap ini lingkup lingkungan semakin luas, tidak hanya di lingkungan keluarga atau sekolah, namun juga di masyarakat. Pencarian jati diri mulai berlangsung dalam tahap ini. Orang yang berada di tahap ini akan dituntut secara alamiah untuk menemukan identitas dirinya. Faktor internal maupun eksternal akan sangat berpengaruh pada proses pencarian dan penemuan jati diri seseorang. Terutama lingkungan eksternal yang memiliki andil besar dalam proses pencarian jati diri. Apabila seorang remaja dalam mencari jati dirinya bergaul dengan lingkungan yang baik maka akan tercipta identitas yang baik pula. Namun sebaliknya, jika remaja bergaul dalam lingkungan yang kurang baik maka akan timbul kekacauan identitas pada diri remaja tersebut.

Oke, setelah kita menyadari bahwa itu merupakan suatu hal yang wajar. Tinggal bagaimana kita mengatur mindset terhadap problema tersebut. Tujuannya agar kita dapat mengambil nilai positif, nilai kebaikan, nilai manfaat, hikmah, dan pelajaran dari apa yang dialami. Buat masalah lebih bermakna, jadikan sebagai bahan untuk menjadikan diri sendiri berkembang ke arah yang lebih baik.

Entah kamu menyadari atau tidak, keadaan-keadaan seperti ini menuntut kita untuk merenung, berkontemplasi, dan berpikir lebih sering serta lebih mendalam dari keadaan biasanya. Secara tidak langsung proses seperti ini akan menjadikan seseorang lebih dewasa dan matang. Bukankah itu suatu hal yang menguntungkan bagi perkembangan diri sendiri?

Kembali pada perasaan menjadi “bodoh”. Sebenarnya hal itu tidaklah terlalu buruk. Karena bodoh yang kamu maksud, bodoh yang seperti apa dulu? Kita mungkin mempunyai konsepsi bodoh yang berbeda satu sama lain.

Bagi saya merasa bodoh itu perlu, agar kita tidak cepat merasa puas dan selalu terpacu untuk belajar lebih, untuk mengetahui lebih, dan untuk melihat lebih. Itulah mengapa ada sebuah adagium yang mengatakan, “Semakin Anda pintar, maka Anda akan merasa semakin bodoh.” Artinya ketika kita terus belajar tanpa henti, kita bisa mawas diri bahwa ternyata ilmu itu luas sekali, pengetahuan itu luas sekali, ternyata banyak hal-hal yang belum kita ketahui selama ini.

Karena hanya dengan merasa bodohlah kita akan terpacu untuk terus belajar dan mencari tahu. Begini… menurut hemat saya, orang bodoh yang sesungguhnya adalah orang yang memilih untuk berhenti belajar dan tetap merasa nyaman di dalam kebodohannya.

Come on… manusia itu sangatlah istimewa, ia dianugerahi akal oleh Tuhan dengan banyak potensi dan keunggulan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Manusia memiliki potensi untuk “mengetahui”, manusia memiliki potensi untuk menerima ilmu, manusia memiliki kemampuan untuk mempelajari hal-hal baru, tapi hal itu berlaku hanya bagi mereka yang mau terus belajar dan menerima ilmu. Walaupun harus kita akui bahwa derajat kemampuan yang ada pada tiap-tiap individu tidaklah sama. Hal itu bukanlah soal selama kita mau untuk terus belajar dan memaksimalkan potensi yang ada pada diri kita masing-masing.

Selasa, 25 Agustus 2020

Tuhan Mau Kita Berbeda


Bumi tempat kita berpijak dihuni oleh banyaknya manusia dengan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Segala perbedaan sikap, sifat, tabiat, kepribadian, bentuk fisik,  dan lain sebagainya sangat biasa kita temui dalam setiap sisi kehidupan.

Jangan jauh-jauh, perhatikan saja diri sendiri yang merupakan salah satu produk keberagaman yang diciptakan Tuhan. Apakah kamu diciptakan sama persis baik bentuk fisik, maupun tabiatnya dengan teman dekatmu, atau dengan sauadaramu, atau dengan siapa pun? Jelas berbeda. Bahkan orang yang terlahir sebagai saudara kembar sekalipun tidak sepenuhnya sama persis, pasti ada perbedaannya.

Dari keberagaman latar belakang hidup manusia, perbedaan tabiat antara satu dengan yang lainnya, bisa kita simpulkan bahwa boleh jadi setiap manusia memiliki prinsip dan cara pandang yang berbeda-beda pula satu sama lain. Sehingga menjadi hal yang wajar jika banyak terjadi perseteruan dan perselisihan antarsesama manusia yang dilatarbelakangi oleh perbedaan.

Dalam kasus ini saya tidak akan menulis peroblema dan solusi dalam skala makro, namun lebih pada sesuatu yang bersifat personal. Lebih pada bagaimana kita sebagai individu menyikapi hal ini. Atau bisa juga bagaimana cara saya pribadi menyikapi hal ini, karena tulisan ini ditulis berdasarkan perspektif pribadi penulis.

Apakah kamu pernah menjadi salah satu korban dari perbedaan yang ada? Pernah menjadi kobran bullying karena berbeda dari orang lain? Pernah mendapat celaan dan hinaan karena berbeda? Pernah dikucilkan karena berbeda?  Atau jangan-jangan kamu termasuk pelaku atau subjek terhadap korban perbedaan?

Anggap saja kita pernah menjadi korban. Pertanyaan selanjutnya saat kamu berada di posisi sebagai korban, bagaimana kamu menyikapi keadaan tersebut? Apa respon yang kamu berikan terhadap stimuli yang didapat? Apakah kamu akan marah? Balik mencela dan menghina? Atau kamu termasuk orang yang lebih suka menanggapi segala sesuatunya dengan nilai-nilai positif?

Menurut hemat saya, semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Diri sendiri yang menentukan dan memutuskan bagaimana harus bersikap dan menyikapi suatu keadaan. Mau ke arah mana kamu membawa permasalahan ini, keputusannya ada di tanganmu.

Namun, kalau boleh saya usul, menagapa kita tidak buat segala sesuatunya indah, baik, dan menyenangkan. Coba bayangkan, bukankah akan lebih indah jika bisa hidup berdampingan penuh toleransi dan kasih sayang meskipun kita tahu bahwa kita berbeda.

Keadaan seperti itu dapat kita mulai dari diri sendiri. Kita tidak perlu fokus menghakimi dan menilai sikap orang lain, tapi lebih fokuskan perhatian pada diri sendiri, banyak hal-hal yang harus dibenahi di dalam diri sendiri sebelum beranjak pada orang lain. Daripada memilih menghakimi, menyakahkan, dan menghina orang lain dengan label-label yang dapat menyinggung hati dan perasaannya, mengapa tidak kita coba untuk saling menghargai pendapat dan pandangan satu sama lain.

Cobalah untuk membiasakan diri menghargai orang lain, menghargai setiap usaha orang lain walau sekecil apapun usaha mereka, menghargai setiap perbedaan yang ada, menghargai setiap masukan yang orang lain berikan kepada kita, menghargai kritik dan saran orang lain terhadap kita, menerima perlakuan baik dan buruk orang lain dengan ikhlas dan lapang. Sungguh itu sebuah kemuliaan jiwa.

Ya, semuanya dimulai dari bagaiama cara agar kita bisa bijaksana dalam bersikap menyikapi berbagai hal. Hal mendasar yang harus kita pahami adalah bahwa Tuhan sebenarnya mau kita berbeda. Tentunya perbedaan yang dapat mendatangkan rahmat bagi sesama. Sehingga dapat kita lihat bahwa ternyata perbedaan itu indah, sangat indah.

Hargai setiap apa yang datang kepada kita. Menerimanya dengan penuh kelapangan. Jadikan itu sebagai bahan untuk introspeksi diri, jadikan sebagai acuan untuk diri kita, sebagai tolak ukur untuk menjadikan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sepahit apapun yang keluar dari mulut orang lain.

Jangan cepat memutuskan untuk marah hanya karena ada yang mencela, menghina, atau berusaha menjatuhkan. Hal itu hanya akan memperburuk diri sendiri. Jadikan setiap keburukan yang orang lain lontarkan sebagai hiasan dalam hidup agar hidup lebih indah dan berwarna, semakin orang mencela, semakin indah keberhasilan yang didapat, Semakin lapang jiwa kita, semakin mulia diri kita. Untuk menjadi pribadi yang mulia, kita harus mampu menerima dengan ikhlas dan lapang setiap keburukan yang orang lain lakukan dan membalas setiap keburukan dengan kebaikan. Kesimpulannya, perbedaan bukan tidak mungkin akan menjadi sesuatu yang indah dan baik, bahkan memang seharusnya begitu, karena Tuhan menghendaki perbedaan sebagai rahmat bagi sesama. Perbedaan dengan segala macam pernak-perniknya haruslah mampu menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik, bijaksana, dan dewasa. Semuanya dimulai dari diri sendiri, dari bagaimana cara kita bersikap dan menyikapi.

Minggu, 05 Juli 2020

Dunia Terlalu Sempit untuk Kamu yang Mudah Putus Asa


Steven Kloves berkata, “Kebahagiaan dapat ditemukan bahkan di saat paling kelam sekalipun. Kamu hanya perlu menyalakan lampu.”

Dalam tulisan kali ini, saya akan mencoba menjawab keluhan serta keresahan salah satu teman terbaik saya yang tengah mengalami masa-masa melankolis dalam hidupnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang tak luput dari pengalaman pahit berupa kegagalan dalam mencapai tujuan hidup atau pengharapannya yang berimbas pada keputusasaan.

Harus kita akui bersama bahwa jalan kehidupan tidak selalu lurus dan mulus, kenyataannya jalan kehidupan sangat curam, berliku-liku, terjal, dan berbatu. Bahkan dalam beberapa kasus jalan kehidupan seolah bagai mesin pembunuh yang siap menggilas habis setiap jiwa yang melangkah melewatinya. Sungguh menyeramkan.

Saya tidak berniat menakut-nakuti, loh. Pada kenyataannya banyak manusia yang tidak kuat menjalani kehidupannya sendiri. Tenggelam dalam keputusasaan sehingga menyebabkan depresi akut, kegilaan, bahkan sampai memilih jalan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Dan saya harap kamu yang membaca tulisan ini tidak berkeinginan melakukan hal itu. Jangankan melakukan, hanya berniat dalam hati saja jangan sampai, deh. Percuma, sia-sia, hanya merugikan diri sendiri.

Sebenarnya putus asa itu makhluk macam apa si? Kok bisa sampai begitunya membuat manusia jatuh dalam kegelapan. Sejahat apa dia? Hmmm… Kalau dibilang jahat, menurut saya si enggak, yah. Justru kalau kita bisa memposisikan diri kita dengan tepat dalam menghadapi rasa putus asa ini, ia akan menjadi sangat baik, loh. Kok bisa? Oh tentu.

Sebelum membahas lebih lanjut, kita kenalan dulu sama putus asa. Secara sederhana putus asa merupakan sikap atau perilaku yang merasa bahwa dirinya telah gagal atau tidak mampu dalam meraih suatu impian, harapan atau cita-cita dan enggan untuk kembali berusaha meraihnya kembali.

Putus asa berarti habis harapan, merasa tidak ada harapan lagi. Padahal kalau kita mampu membuka pikiran, menjernihkan hati, menenangkan jiwa, melihat lebih jauh, dan menyadari bahwa dunia begitu luas, tentunya kita akan berpikir bahwa selalu ada harapan. Jika kamu seorang Muslim, pastinya kamu tahu bagaimana Allah menjelaskan dalam firman-Nya bahwa sesungguhnya di balik setiap kesulitan itu ada kemudahan.

So, jangan mudah berputus asa. Sebab setiap kesulitan itu pasti ada jalan keluarnya. Menurut Dr. Aidh Al-Qarni mengatakan dalam bukunya, hanya orang-orang yang lemah jiwanya, yang rapuh imannya yang mudah putus asa.

Lantas bagaimana menjadikan rasa putus asa ini menjadi sesuatu yang positif dalam hidup?

Jawabannya sederhana, kamu hanya perlu mengubah mindset hidupmu. Karena segala sesuatu akan menjadi positif tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya, lagi-lagi saya berbicara tentang sudut pandang.

Coba kita resapi kalimat di awal tulisan ini. Seberapa sering pun kita terjatuh, seberapa sering pun kita mengalami kegagalan dalam hidup, percayalah bahwa kebahagiaan dan harapan dapat kita temukan. Dan kamu hanya perlu menyalakan lampu. Ya, kamu hanya perlu melihat lebih luas dan lebih jauh. Kamu hanya perlu mengubah perspektif kamu ke arah yang positif. Masalah yang ada di hadapanmu itu tidaklah seberapa, kamu dapat menyelesaikannya dengan mudah jika kamu memberikan kesempatan kepada diri sendiri dengan membuka mata dan pikiran untuk melihat lebih luas.

Dunia terlalu sempit untuk orang-orang yang mudah berputus asa dan dunia sangatlah luas bagi orang-orang yang selalu mencari peluang dan kesempatan untuk menjadi insan yang lebih baik lagi, insan yang mau bangkit setelah mereka jatuh, insan yang terus berlari tak peduli seberapa besar rintangan di depan matanya, ia tak gentar dan merasa takut, ia benar-benar yakin pada dirinya sendiri, percaya bahwa ia mampu melewati dan menghadapi ini semua.

Jika kamu dihadapkan pada kegagalan, terima dan akui kegagalan itu dengan lapang. Tapi jangan sampai kegagalan menjadikanmu menyerah dan putus asa begitu saja. Lakukan upaya yang lebih keras dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Jadilah versi dirimu yang lebih baik dari yang sebelumnya. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika kamu mampu mengalahkan dirimu di masa lalu dengan menjadikan dirimu lebih baik di masa depan.

Satu hal terpenting yang perlu kamu tanamkan, mulai saat ini buang jauh-jauh pikiran negatif yang seringkali menghantui pikiranmu. Sesungguhnya kemampuan dan kapasitas yang kamu miliki sebenarnya jauh lebih besar dari apa yang kamu pikirkan saat ini. Kamu harus percaya dan yakini itu.

Sebagai penutup saya akan mengutip perkataan dari Suiryu, salah satu tokoh dalam serial anime One Punch Man.

“Saat seseorang tenggelam dalam kegelapan, dia akan mencari cahaya. Mau cahaya itu seredup atau sekecil apa pun itu tidak masalah. Selama cahaya itu ada, maka harapan itu ada.” Suiryu

Sabtu, 27 Juni 2020

Kausalitas pada Dua Tipe Manusia

 

Semua hal yang terjadi di dalam kehidupan ini tidak terlepas dari hukum sebab-akibat. Secara sederhana, tidak ada yang namanya “kebetulan” jika kita memerhatikan segala sesuatunya dengan saksama. Bahwa filsafat dualisme yang membawahi hukum kausalitas kehidupan sangatlah realistis dan empiris.

Istilah hukum kausalitas memang beragam dan sangat bervariasi bergantung dari perspektif mana istilah itu diambil. Tapi pada dasarnya memiliki arti dan substansi yang sama.

Dalam beberapa kasus, terkadang pola kehidupan terlihat berjalan tanpa adanya keterlibatan hukum sebab-akibat di dalamnya. Tapi sebenanarnya menafikan hal tersebut adalah pilihan yang sangat jarang di ambil oleh pola pikir manusia yang menggerakkan akal pikirannya.

Menurut saya, bukan berarti tidak ada, hanya saja tersamarkan. Karena hukum kausalitas tidak semuanya bisa dipahami dengan kedangkalan berpikir otak manusia. Hukum tersebut ada yang memang mudah dipahami dan ada pula yang sulit untuk dipahami; ada yang sifatnya rasional, ada pula yang irrasional, ada yang tersurat ada pula yang tersirat. Tapi kembali lagi jika kita memperhatikannya dengan saksama, kita bisa menarik benang merah peristiwa apa pun pada hukum sebab-akibat.

Mungkin kita sempat berpikir bahwa permasalahan-permasalahan yang menimpa kita di dunia ini, lantaran karena dosa-dosa yang telah kita perbuat, karena kedurhakaan kita terhadap Allah SWT.

Ya, itu salah satu contoh bagaimana hukum sebab-akibat telah terprogram dalam pikiran dan hati manusia. Dan Al-Qur’an menjelaskan cara menyelesaikan permasalahan-permasalahan itu dengan perintah-perintah kepada manusia untuk melakukan suatu perbuatan (sebab) yang nantinya akan berakibat pada jalan keluar dan penyelesaian (akibat). Saya akan mencoba memberi contoh bagaimana hukum ini bekerja dalam perspektif spiritual.

Hai, Kawan! Tahukah kamu, perbuatan sederhana dengan akibat baik yang sangat besar?

Ya! Sedekah.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa dengan bersedekah, maka rezeki kita akan bertambah, segala macam kesulitan akan dipermudah, segala doa akan cepat terkabul, dan banyak kebaikan lainnya.

Contoh sederhana di atas adalah gambaran bagaimana hukum sebab-akibat itu berjalan melatarbelakangi berbagai macam peristiwa yang ada di kehidupan.

Dan Al-Qur’an dengan segala kehebatannya telah menawarkan berbagai cara dan solusi bagi manusia dalam menghadapi berbagai macam permasalahan-permasalahan hingga keinginan manusia itu sendiri. Semua itu diperuntukkan bagi manusia yang ingin keluar dari situasi-situasi sulit menuju kemudahan dengan jalan yang baik dan benar.

Dalam kasus ini setidaknya ada dua tipe manusia dalam menyelesaikan permasalahan ketika ditimpa kesulitan. Sebagian orang menyelesaikan berbagai persoalan dan masalah dengan sesuatu yang baik, dan sebagian lainnya menyelesaikan persoalan dan masalah dengan sesuatu yang buruk.

Percaya atau tidak, hukum sebab-akibat berlaku pada keduanya. Sesuatu yang baik untuk yang baik, dan sesuatu yang buruk untuk yang buruk. Kamu bisa membuktikannya dengan keyakinan hati dan realisasi dalam tindakan. Lihat saja bagaimana hasilnya…

Kembali pada contoh di awal. Sedekah merupakan cara yang baik, dan Al-Qur’an telah mengindikasikan bahwa dengan bersedekah rezeki aka bertambah serta berbagai kesulitan akan dipermudah.

Sekarang mari kita coba dengan sesuatu yang buruk. Kesombongan dan kikir ditambah tidak mengimani adanya balasan dari setiap apa yang diperbuatnya. Ya… itu antitesis yang tepat dalam kasus ini.

Kamu mungkin mengetahui kisah Qarun. Kehidupan Qarun pada awalnya sangat miskin hingga akhirnya ia meminta kepada Nabi Musa AS. untuk mendoakannya agar menjadi kaya. Akhirnya Nabi Musa AS. mendoakannya dan Allah SWT. mengabulkannya.

Sayangnya ketika sudah menjadi kaya, Qarun mempergunakan hartanya dalam kesesatan, kezaliman, dan permusuhan, sehingga membuatnya menjadi orang yang sombong. Qarun mabuk dan terlena dengan kekayaannya. Dengan sombongnya Qarun merasa bahwa apa yang dimilikinya saat ini berupa harta kekayaan yang melimpah adalah hasil kerja keras dan jerih payahnya tanpa campur tangan Tuhan.

Berdasarkan kisahnya yang tertuang dalam Surat Al-Qashas ayat 76-83, akibat dari kesombongan Qarun, Allah menurunkan adzab kepadanya berupa gempa bumi dan longsor yang dahsyat. Qarun tenggelam bersama seluruh harta kekayaannya ke dalam perut bumi. Tak ada sedikitpun harta yang tersisa, seluruhnya bahkan rata dengan tanah. Tidak ada satupun golongan yang mampu menyelamatkannya, baik keluarga, kerabat maupun temannya. Harta yang selama ini dibanggakannya justru menjadi malapetaka baginya dan tak sedikitpun mampu menolongnya.

Kesimpulannya ada pada pribadi masing-masing. Jalan mana yang ingin kita ambil dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Mau dengan cara atau jalan yang baik sehingga mendatangkan jalan keluar yang baik pula, atau dengan cara atau jalan yang buruk sehingga bukannya mendatangkan jalan keluar malah akan membinasakan diri sendiri.

Jumat, 29 Mei 2020

Mari Berislam secara Fair dan Lepas dari Belenggu Islam Fundamentalis


Dari hari ke hari, banyak sekali fenomena-fenomena dalam beragama dengan berbagai macam warna dan coraknya dapat kita temui di dunia. Termasuk Islam itu sendiri yang kabarnya akan terbagi menjadi 73 golongan dan hanya 1 yang masuk surga (beberapa pendapat mengatakan hadits tersebut hasan dan tidak sampai pada derajat shahih), meskipun sebenanrya saya lebih setuju umat Islam terbagi menjadi 73 golongan dan hanya 1 yang masuk neraka. 1 golongan itu adalah mereka yang tidak memercayai adanya Allah SWT. sebagai Tuhan semesta alam. Jika mempertimbangkan berbagai interpretasinya akan banyak terbentuk kemungkinan-kemungkinan yang erat kaitannya dengan kabar-kabar yang lain. Namun saya tidak akan membahas lebih jauh tentang itu.

Yang ingin saya utarakan dalam tulisan ini adalah sebuah opini tentang apa yang saya lihat dan saya pahami saat ini terhadap fenomena beragama yang terjadi pada kalangan umat Islam di Indonesia, terutama di kalangan para muda-mudi yang boleh dikatakan satu generasi dengan saya sendiri.

Kembali saya katakan bahwa Ini hanya opini saya pribadi dan juga argumentasi-argumentasi yang saya dapat dari berbagai pemahaman dan diskursus yang saya lakukan dengan teman serta senior yang kompeten dalam bidang ini.

Mungkin banyak di antara kita yang menemukan fenomena dimana orang-orang di usia muda seperti saya yang baru mengenal dan memahami wajah Islam namun tidak mampu mengontrol diri dan ambisinya untuk belajar agama secara luas dan komprehensif, ia hanya menerima mentah-mentah materi keagamaan dari sumber-sumber yang belum sepenuhnya valid tanpa mau mencari tahu dan mempelajari lebih dalam tentangnya, sehingga banyak bermunculan orang-orang yang dikatakan “mabuk agama” dan gagal paham dalam memahami Islam.

Bukan berarti saya adalah orang yang paling paham tentang agama Islam, bukan. Saya pribadi juga masih terus belajar dan mencari tahu tentang Islam dan keberislaman yang sebenarnya dan sebaik-baiknya.

Banyak sekali doktrin-doktrin keislaman yang justru malah mempersempit pemikiran orang-orang Islam di dalamnya. Dan doktrin tersebut terbukti efektif mengenai sasaran pemikiran orang-orang awam yang belum sepenuhnya mengerti tentang Islam yang sesungguhnya. Sebuah doktrin yang mampu menyentuh logika dan emosi seseorang sehingga membuat mereka berpikir bahwa apa yang disampaikannya sepenuhnya benar (padahal belum tentu) tanpa ada daya kritis sebagai pengontrol dan penyeimbang.

Semakin ia disuguhi doktrin-doktrin satu arah (one sided issue) dengan tendensi metode penyampaian Fear Appeal (menimbulkan rasa ketakutan kepada khalayak) secara terus-menerus, maka semakin terbentuk pola pikir pragmatis di dalam dirinya, mulailah tertutup ruang hati dan pemikiran dari perspektif atau sudut pandang lain yang berbeda, dan mengklaim apa yang selama ini diterimanya adalah ajaran yang paling benar dan yang lain salah. Dari sinilah muncul bibit-bibit bigot dengan kepongahan dan keangkuhan yang berimplikasi pada tertutupnya pikiran dalam menerima serta mendengarkan pandangan yang berbeda dari dirinya.

Tidak aneh jika sekarang banyak orang-orang beragama Islam yang takut terhadap agamanya sendiri (Islamophobia). Karena wajah Islam oleh sebagian orang dengan pemikirannya yang sempit dibuat menyeramkan dan menakutkan,  padahal tidak demikian kenyataannya. Agama yang seharusnya menjadi solusi malah mejadi momok yang menakutkan ditengah masyarakat kita. Saya yakin ada sesuatu yang salah. Bukan agamanya, tapi manusianya.

Semakin rendahnya kesiapan mental seseorang untuk menerima kebenaran lain yang ada, semakin mempersempit ruang dialog, ruang pertukaran pikiran untuk mencari kebenaran dan untuk kemajuan umat Islam bersama. Umat Islam hanya akan diributkan oleh pertelingkahan yang pada akhirnya hanya stuck di situ-situ saja, tidak ada titik terang yang ditemukan karena tidak adanya keterbukaan satu sama lain.

Pola-pola seperti ini akan melahirkan muslim-muslim fundamentalis yang sempit dalam berpikir dan enggan untuk menerima kemungkinan-kemungkinan baru, terutama pemikiran-pemikiran Islam yang semakin berkembang dan dewasa.

Pada akhirnya jika melihat kenyataan yang seperti ini, maka kejumudan akan tetap membelenggu umat Islam. Umat Islam akan sukar mengalami kemajuan dan akan terus mengalami keterbelakangan dari berbagai aspek terutama dalam hal sofistifikasi berpikir.

Imbasnya tentu akan banyak melahirkan orang-orang intoleran di negeri ini, sebagaimana fenomena-feomena yang kita lihat dan rasakan secara nyata baik di media sosial maupun yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Tidak adanya keterbukaan wawasan, tidak adanya pertukaran pikiran, tidak ada lagi orang yang saling menghargai pendapat orang lain, semuanya hanya mementingkan egonya masing-masing disertai dengan kepongahan yang luar biasa.

Padahal jika seseorang dapat menerima informasi dari dua sisi (two sides issue), melihat dari sudut pandang atau perspektif berbeda yang sama-sama mengandung kebenaran, serta memiliki dasar ataupun argumen yang kuat, keterbukaan dan pertukaran pemikiran untuk kemajuan bersama bukan menjadi sesuatu yang mustahil untuk diraih.

Sayangnya hal itu akan sulit diraih, melihat kenyataan banyak orang-orang dengan pemikiran sempit yang sangat bigotri. Bukannya mendengarkan dengan baik terlebih dahulu argumen dari sisi lain, mencerna dan memahaminya dengan baik, menerima dengan keterbukaan hati dan pikiran, yang terjadi sekarang ini orang lebih memilih menutup telinga kemudian melontarkan olok-olok, cemooh, dan merendahkan sudut pandang keilmuan yang berbeda dengannya. Rata-rata hal ini terjadi di kalangan awam bukan di kalangan para ahli. Karena mungkin kedewasaan serta kematangan dalam berpikir belum sepenuhnya sampai.

Secara sederhana, banyak pengikut-pengikut ajaran keagamaan yang merasa paling benar dan merasa paling mengerti serta paham tentang apa yang dibawanya, tapi sebenarnya kosong makna dan kosong ilmu. Mereka memilih untuk berhenti belajar dan enggan menerima pemikiran-pemikiran dari sudut pandang keilmuan lain yang boleh jadi lebih dapat diterima oleh hati dan pikiran. Namun karena memang ruang hati dan pemikirannya sudah tertutup dan enggan untuk memberikan ruang, yah, mau bagaimana lagi? Salah satu cara untuk mengatasinya adalah usaha untuk terus belajar dan mencari tahu tentang cara beragama yang sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Intinya tidak pernah berhenti belajar dan merasa puas akan apa yang telah didapat. Perluas cakrawala pikiran dan pengetahuan, buka hati dan pikiran untuk menerima samudera ilmu pengetahuan. Hanya dengan upaya pencarian terus menerus tentang makna keberislaman yang hakiki dan keterbukaan hati akan kemungkinan-kemungkinan baru, maka kita dapat terselematkan dari pemikiran-pemikiran yang membelenggu. Seorang bukan hanya harus adil dalam berbuat, tetapi juga harus adil dalam pemikiran.

Senin, 20 April 2020

Tahun-Tahun Kegilaan


Maju mundur saya menuliskan tulisan yang satu ini. Dengan berat hati saya terpaksa harus menuliskan sekelumit perjalanan hidup dalam kurun waktu tiga tahun terakhir yang penuh dengan monokrom mengerikan.

Apalagi kalau bukan tentang kehancuran dan kekacauan. Saya lebih suka menyebutnya sebagai tahun-tahun kegilaan karena pembawaan diri yang benar-benar terkesan gila menurut saya.

Saya yakin akan ada orang yang tertawa terbahak-bahak, merasa puas menertawakan tulisan ini, lebih tepatnya menertawakan nasib penulisnya yang menyedihkan. Dan itu menjadi salah satu harapan saya.

Besar harapan saya menuntaskan permasalahan dengan orang-orang yang memiliki dendam kesumat terhadap saya dan menuntaskan kesalahan-kesalahan saya yang tidak bisa mereka maafkan.

Tulisan ini akan terkesan sangat bucin dalam beberapa sudut pandang. Bagi kamu yang alergi dengan itu, sebaiknya berhenti membaca postingan ini, tidak usah dilanjutkan, silakan baca tulisan saya yang lain.

Sebuah kisah tentang beberapa episode cinta yang hilang, menikam, menghanyutkan, dan benar-benar gila dalam tahun-tahun kegilaan.

Tentang sikap kekanak-kanakan, bodoh, ceroboh, egois, keras kepala, pikir pendek, dan angkuh. Padahal saya selalu memiliki kesempatan untuk berpikir banyak hal. Tapi hal ihwal cinta, perasaan, dan wanita. Oh, sungguh tak terbayangkan, gelap gulita.

Kelabilan yang tak bisa ditutup-tutupi oleh remaja peralihan dari pertengahan menuju akhir. Kegagalan dalam mengekspresikan perasaan. Terlalu ekspresif sehingga menunjukkan kesan krisis moral yang sangat dalam.

“Cinta merupakan sesuatu yang emosional, dan apa pun yang emosional bertentangan dengan penjelasan sejati yang aku letakkan paling tinggi di atas semuanya.” –Sherlock Holmes

Dalam tiga sampai empat tahun masa kegilaan, ada dua perempuan yang cukup mengalihkan sebagian dari kehidupan saya, dua perempuan yang saya hancurkan sekaligus dua perempuan yang menghancurkan saya.

Kehancuran yang saya maksud yaitu terjadinya instabilitas atau disequiblirium dalam jalannya hati dan pikiran. Sederhana tapi sangat meresahkan.

Saya tidak menyalahkannya, saya hanya menyalahkan diri sendiri, baik dari posisi saya sebagai subjek maupun objek. Jelas-jelas isi pikiran saya yang terlalu retorik memandangnya.

Setidaknya saya berhasil membuktikan nasihat dari salah seorang guru yang sempat saya remehkan nasihatnya. Dalam sebuah kesempatan berbincang-bincang mengenai banyak hal, diakhir pembicaraan beliau memberi nasihat kepada saya, kurang lebih begini perkataannya,

“Musuh terbesarmu sebenarnya adalah perempuan.”

Perkataan itu mungkin tidak akan berlaku bagi kamu, karena beliau mengutarakan hal itu kepada saya setelah saya berdebat banyak hal dengannya tentang perempuan. Yang artinya jelas itu ditamparkan kepada saya seorang yang ada dihadapannya pada saat itu.

Selain itu, saat ini saya merasa ditampar oleh berbagai rumor yang dikatakan teman-teman saya dulu, tentang kehancuran yang akan didapat saat berani memulai perkara (menyulut api) dengan perempuan.

Sekarang saya belajar banyak hal, terutama tentang pentingnya menghargai dan mengormati perempuan –terutama perasaannya. Saya hanya ingin menyampaikan dengan segala kerendahan hati, saya benar-benar meminta maaf karena telah mengganggu dan merusak kehidupan kalian. Ucapan terima kasih yang tak terperi saya sampaikan kepada dua perempuan yang sangat berjasa dalam hidup saya, terutama dalam memberi persepsi-persepsi baru mengenai banyak hal dalam kurun waktu tiga sampai empat tahun terakhir saat tulisan ini ditulis pada awal April 2020.  Bagi saya mereka tetap teman dan sahabat baik dalam hidup.

Semoga tulisan ini bisa memutus rantai kebencian dan dendam yang mungkin terpendam di antara kita sebagai sesama makhluk Tuhan.

Selasa, 07 April 2020

Sebaik-baik Teman Duduk adalah Buku


Kamu mungkin merasa sudah tidak asing lagi dengan Mahfudzot (kata-kata mutiara) yang tertera pada judul tulisan ini. Ya, “Sebaik-baik teman duduk adalah buku”. Kalau kamu punya pengalaman mondok atau belajar di pesantren, pepatah itu sangat familiar sekali di ingatan kita, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia.

Sepengalaman saya belajar di pesantren selama tiga tahun, dalam setiap pelajaran Mahfudzot, saya dan santri-santri yang lain selalu memulai pelajaran dengan melafalkan ulang kata-kata mutiara yang sudah dihafal dan dipelajari sebelumnya secara serentak. Menyenangkan sekali. Sebagai gantinya, kata-kata mutiara itu akhirnya terpatri dengan baik dalam ingatan saya.

Mengapa kita merasa perlu mempelajari kata-kata mutiara?

Kalau kita dapat meresapinya dengan baik, setiap pepatah yang diajarkan oleh guru-guru kita itu layaknya siraman air hujan di tanah yang tandus. Memberikan kesegaran, kesejukan, dan kedamaian pada hati yang kering kerontang. Kata-kata mutiara yang kita pelajari merupakan asupan yang bergizi untuk rohani kita yang tidak selalu dalam kondisi prima.

Secara langsung atau tidak langsung belajar Mahfudzot dapat meningkatkan kebijaksanaan kita sebagai manusia yang dibekali akal sehat. Sudah jelas, bukan? Yang dipelajarinya saja kata-kata bijak, masa iya orangnya nggak ikut-ikutan bijak, idealnya orang yang sunguh-sungguh mempelajari kata-kata bijak akan tercermin pula pada pribadinya yang bijaksana.

Tapi kembali lagi, itu semua tergantung pada tiap-tiap individu memandangnya. Bisa saja mempelajari Mahfudzot hanya untuk menambah wawasan keilmuannya saja tapi tidak untuk di refleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa juga mempelajari Mahfudzot hanya karena tuntutan dari orang lain, sehingga mau tidak mau harus mempelajarinya. Dalam menyikapinya semua kembali ke diri masing-masing. Yang pasti mempelajari ilmu yang satu ini sangat banyak sekali manfaatnya dan kamu gak akan rugi, deh.

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas salah satu Mahfudzot yang cukup familiar di telinga kita.  Dan dalam bahasannya saya akan mengutip penjelasan dari buku berjudul La Tahzan yang ditulis oleh Dr. Aidh Al-Qarni.

Menurutmu, mengapa buku bisa menjadi sebaik-baiknya teman duduk? Padahal buku itu kan benda mati, secara tersurat buku tidak bisa kita ajak bicara, buku tidak bisa mendengarkan keluh kesah kita. Apa pantas dijadikan sebaik-baiknya teman?

Menurut hemat saya, buku benar-benar bisa menjadi sebaik-baiknya teman. Mengapa? Karena setiap waktu yang kita habiskan dengan buku, tidak akan pernah membuat kita rugi sedikit pun. Berteman dengan buku sama halnya dengan berteman dengan ilmu pengetahuan. Orang yang hidupnya dipenuhi dengan ilmu, bisa mendapatkan apa pun itu baik di dunia ini maupun di akhirat kelak, bukan aku yang ngomong, itu sabda nabi, loh. Jadi, di sisi mana ruginya? Masih menganggap buku bukan sebaik-baiknya teman?

Diantara sebab kebahagiaan adalah meluangkan waktu untuk mengkaji, menyampaikan diri untuk membaca, dan mengembangkan otak dengan hikmah-hikmah.

Berbeda halnya ketika kamu menghabiskan waktu bersama teman sesama manusia. Kita berbicara fakta dan realita, kebanyakan orang –tidak semua orang– menghabiskan waktu dengan teman-teman sesama manusianya untuk sesuatu yang kurang memiliki nilai manfaat, bahkan merugikan. Gak jauh-jauh deh dari ngongkrong-nongkrong gak jelas, ngabisin duit, ghibahin orang, gosipin orang, menghabiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang gak penting, dan lain sebagainya. Itu untuk contoh yang kurang positifnya, ya.

Contoh positifnya ada juga kok, berteman dengan teman sesama manusia yang baik hatinya bisa juga menularkan kebaikan kepada kita; berteman dengan teman yang pintar, tidak menutup kemungkinan menularkan kepintarannya kepada kita; berteman dengan orang yang rajin sholat ke masjid, sangat mungkin menularkan kebiasaan sholat ke masjidnya ke kita; berteman dengan teman yang bertutur kata baik, sangat bisa menularkannya juga ke kita. Dan masih banyak lagi contoh-contoh positif lainnya.

Kalau kata hadits nabi, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berteman dengan manusia masih memungkinkan kamu menemukan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat merugikan hidupmu.

Oke, kita lanjutkan pembahasan buku sebagai sebaik-baiknya teman.

Kamu kenal Al-Jahizh? Kayaknya kita emang gak kenal deh karena gak pernah ketemu, Al-Jahizh hidup pada abad pertengahan, kita belum lahir. Walaupun gak pernah ketemu, setidaknya kita tahu riwayat hidupnya meskipun hanya sedikit. Al-Jahizh adalah seorang cendekiawan, Bapak Biologi Muslim, pencetus konsep evolusi sebelum Charles Darwin, dan memiliki karya-karya dalam bidang literatur Arab, biologi, zoologi, sejarah, filsafat, psikologi, Teologi Mu’taziliyah, dan polemik-polemik religi. Sudah kenal, yah. Walaupun gak ketemu langsung.

Al-Jahizh menasihatkan untuk senantiasa membaca dan mengkaji agar kita bisa mengusir kesedihan. Katanya: “Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu, dan teman yang tidak membuatmu bosan. Ia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu. Dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu. Dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang kamu miliki. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan, dan tidak akan membuat kebohongan.”

Buku adalah sesuatu yang jika kamu pandang maka akan memberikan kenikmatan yang panjang, dia akan menajamkan kemampuan intelektual, membuat lidah tidak kelu, dan membuat ujung jemari semakin indah. Dia akan memperkaya ungkapan-ungkapanmu, akan memenangkan jiwa, dan akan mengisi dada. Buku akan memberikan “penghormatan orang-orang awam dan persahabatan dengan raja-raja” kepadamu. Dengannya kamu akan mengetahui banyak hal hanya dalam waktu yang singkat. Satu hal yang tidak bisa kamu dapatkan dari mulut orang selama satu masa.

Buku akan senantiasa taat baik di siang hari maupun malam hari. Dia dapat mengikutimu kemana saja, baik dalam perjalanan maupun ketika kamu berdiam diri di rumah. Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pernah kelelahan menemanimu. Dia adalah guru yang jika kamu membutuhkannya, maka ia tidak akan merasa malu. Dan jika kamu meninggalkannya, maka dia tidak akan memutuskan faedahnya. Walaupun kamu meninggalkannya dia akan selalu taat. Meskipun kamu berada dalam kondisi tersulit sekalipun, dia tidak akan berpaling. Kesendirianmu tidak akan membahayakan selama kamu selalu bersamanya.

Buku akan menghindarkan kamu dari segala kemungkinan buruk, dan menghadapkan seseorang pada manfaat yang besar. Berteman dengan buku sama halnya kamu telah berhasil mendapatkan pokok sekaligus cabangnya. Seandainya yang kamu dapatkan dari buku tak lebih dari kegiatan yang menghalangi niatmu dari keinginan yang murahan, dari keinginan untuk bersenang-senang saja, dan main-main yang sama sekali tidak berarti, maka itu sudah merupakan nikmat yang besar dan karunia yang agung.

Kita sadar bahwa buku adalah pilihan terbaik bagi orang-orang yang kosong untuk menghabiskan waktu siangnya, dan orang-orang yang suka bersenang-senang untuk menghabiskan malam-malam mereka. Buku adalah sesuatu yang tanpa mereka sadari, memberikan dorongan untuk mencoba, menggunakan nalarnya, membentuk kepribadiannya, menjaga kehormatan mereka, meluruskan agama mereka, dan mengembangkan harta mereka.

Saran saya, jadikan buku sebagai teman terbaik dalam mengisi waktu-waktu luang dalam hidup. Karena berteman dengan buku, sekali lagi tidak akan membuatmu rugi, banyak sekali manfaat yang bisa dipetik darinya, tentunya sangat menguntungkan bagi kamu. Bukan berarti berteman dengan buku malah menjadikan kamu antisosial dan tidak mau berteman dengan sesama manusia, loh. Segala sesuatunya harus diterapkan dengan baik dan proporsional. Semoga tulisan yang satu ini dapat meningkatkan minat kamu dalam membaca dan juga meningkatkan kecintaan kamu terhadap buku.